div id='fb-root'/>

Selasa, 19 April 2016

WALIYULLAH MBAH KYAI DALHAR WATUCONGOL

Berikut ini adalah ringkasan manaqib beliau yang penulis peroleh dari keterangan keluarga. Terutama kakek penulis yaitu KH Ahmad Abdul Haq dan beberapa petikan catatan yang penulis peroleh dari catatan – catatan Mbah Kyai Dalhar.


Mbah Kyai Dalhar lahir di komplek pesantren Darussalam, Watucongol, Muntilan, Magelang pada hari Rabu, 10 Syawal 1286 H atau 10 Syawal 1798 – Je (12 Januari 1870 M). Ketika lahir beliau diberi nama oleh ayahnya dengan nama Nahrowi. Ayahnya adalah seorang mudda’i ilallah bernama Abdurrahman bin Abdurrauf bin Hasan Tuqo. Kyai Abdurrauf adalah salah seorang panglima perang Pangeran Diponegoro. Nasab Kyai Hasan Tuqo sendiri sampai kepada Sunan Amangkurat Mas atau Amangkurat III. Oleh karenanya sebagai keturunan raja, Kyai Hasan Tuqo juga mempunyai nama lain dengan sebutan Raden Bagus Kemuning.

Rabu, 09 Maret 2016

ANSOR TEMANGGUNG PRIHATIN

                Maraknya Gerakan radikalisme dan terorisme di Temanggung akhir-akhir ini menjadikan keprihatinan khusus bagi PC. Gerakan Pemuda Ansor Kab. Temanggung. Kemaren minggu (06/03/2016) Pengurus Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kab. Temanggung mengadakan “rembug bareng “di Gedung PC NU Kab. Temanggung.
                Salah satu hal yang utama adalah mendiskusikan dan memetakan gerakan-gerakan Radikalisme dan Terorisme yang berkembang  di Temanggung. Ketua Pengurus Cabang GP Ansor Kab. Temanggung Sahabat Sukron Wahid, M.Si menyampaikan “ Sesuai dengan amanat organisasi di Gerakan pemuda Ansor, Ansor harus peka terhadap masalah-masalah sosial yang berkembang, maka Ansor harus mengetahui peta konflik radikalisme di Temanggung” Tegas beliau.
                Dalam pertemuan itu, hadir juga wakil ketua dan sekretaris, sahabat Dani Wardoyo dan  Sahabat Den Ahsan, juga anggota dari Lembaga Dakwah dan Kajian Kesilaman yang lainnya. Lebih lanjut Sahabat Dani ( Panggilan Akrabnya) mengatakan bahwa pertemuan ini bisa menjadi stimulus bagi pengurus Anak Cabang dan Ranting Se-Kabupaten Temanggung untuk ikut serta mensikapi dan nantinya bisa memberikan edukasi kepada masyarakat setempat.
                Disepakati juga Pengurus Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Temanggung dalam waktu dekat harus mengadakan audiensi dengan pemerintahan Kabupaten Temanggung (Bupati Temanggung) untuk medesak agar masalah Radikalisme dan Terorisme di Temanggung bisa segera di atasi. Selain itu Ansor Kabupaten Temangung akan mengadakan pembekalan kewaspadaan dan deteksi dini bagi aparatur pemerintah, tokoh agama, tokoh masarakat, unsur organisasi, beserta elemen masyarakat, sebagai langkah awal deradikalisasi di Temanggung.

EM Noer H

Sabtu, 05 Maret 2016

Gus Miek: Wajah Sebuah Kerinduan

©istimewa
Oleh: Abdurrahman Wahid
Tiga tahun lalu, di sebuah beranda surau di Tambak Beras, Desa Ploso, Kediri, saya berhasil menelusuri Kota Kediri sebelum melihat mobil Gus Miek di sebuah gang, tengah meninggalkan tempat itu. Dalam kecepatan tinggi, mobilnya menuju ke arah Selatan dan hanya kami bayangi dari kejauhan. Setelah membelok ke Barat dan kemudian ke Utara melalui jalan pararel, akhirnya mobil itu berhenti di depan surau tersebut. Gus Miek sudah meninggalkan mobilnya menuju ke surau itu, ketika mobil tumpangan saya sampai. Ia terkejut melihat kedatangan saya, karena dikiranya saya adalah adiknya, Gus Huda. Rupanya, mobil tumpangan saya sama warna dan merek dengan mobil adiknya itu.

Senin, 15 Februari 2016

Doa Cinta

Ya Allah,
Lukaku tak akan tersembuhkan
kecuali dengan karunia dan kasihMu
Kefakiranku tak akan terkayakan
kecuali dengan cinta dan kebaikanMu
Ketakutanku tak akan tertenangkan
kecuali dengan kepercayaanMu
Keinginanku tak akan terpenuhi
kecuali dengan anugrahMU

Doa Cinta

Ya Allah,
Yang tiada aku harapkan kecuali karuniaMu
tidak aku takutkan kecuali keadilanMu
tidak aku percayai kecuali firmanMu
tidak aku pegangi kecuali taliMu
KepadaMu aku berlindung
Wahai Pemilik Ridlo dan Ampunan
dari kedlaliman dan permusuhan
dari bencana zaman
dari runtutan kesedihan
dari rangkaian kemalangan
dari habisnya jangka sebelum siap sedia
KepadaMu aku mohon bimbingan pada apa yang baik
dan mendatangkan kebaikan

Doa Cinta

Ya Allah,
Puji bagiMu yang mencipta langit dan bumi tanpa seorang saksi
yang menggelar makhluk tanpa seorang pembantu
Tidak ada sekutu dalam keilahian
Tidak ada setara dalam ketunggalan
Kelu lidah mengungkap sifatMu
Lemah akal memerikan makrifatMu
Merendah segala penguasa karena kehebatanMu
Rebah segala wajah karena takut padaMu
Jatuh segala yang agung karena keagunganMu

Majnun Cinta


Sedulurku tercinta, aku tak bosan-bosannya membaca novel Layla Majnun, dari cetakan yang lama sampai cetakan terbaru dari pengarang Hakim Nizhami itu. Bagi Majnun [nama aslinya Qois], cinta didefisinikan dengan sangat konkret, ia mencintai apa saja yang datang dari tempat kekasihnya. Ia mengembara sejak perpisahannya dari sekolah bersama Layla [karena orang tua Layla merasa ternoda kehormatannya], menyebut-nyebut nama Layla, dengan berjalan terseok-seok, ia menulis puisi untuk Layla dan membacanya sepanjang perjalanan. Ia tidak berbicara apa pun kecuali tentang Layla [anak gadis yang bermata hitam, rambut hitam, sehitam malam, makanya disebut Layla], Ketika orang lain mengajaknya bicara, ia tidak pernah menjawabnya kecuali kalau orang itu membicarakan Layla.

Rabu, 10 Februari 2016

Iran Versus Arab Saudi, Sejarah yang Terulang

Ketegangan yang masih menyelimuti kawasan Timur Tengah, menyusul hukuman mati terhadap aktivis Syiah Arab Saudi, Nimr Baqir al Nimr, mengingatkan kita akan sejarah hubungan Sunni-Syiah yang nyaris tak pernah akur. Pertentangan antara keduanya muncul tak lama setelah Nabi Muhammad SAW meninggal dunia.
 Para pengikut Syiah beranggapan bahwa yang layak menggantikan Nabi Muhammad SAW tak lain adalah Ali bin Abu Thalib. Selain menjadi menantu Rasulullah dengan mempersunting Fatimah, Ali juga sepupu Muhammad SAW dan pemuda pertama yang mengakui kenabiannya. Sejarah juga mencatat Ali dan Khadijah binti Khuwailid, istri Nabi SAW, melaksanakan shalat berjemaah pertama di dunia di dekat Kakbah dengan imam Rasulullah Muhammad SAW.
Kelompok Syiah yang ekstrem bahkan tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar al Faruq, dan Utsman bin Affan, tiga khalifah sebelum Ali diangkat menggantikan Utsman. Kesetiaan pengikut Ali makin mengental setelah Ali RA dibunuh oleh Abdur-Rahman bin Muljam, konon orang yang hafal Al Quran, puasa di siang hari, dan shalat tahajud di malam hari.

Minggu, 06 Desember 2015

Mengasah Kepekaan Rasa dengan Syair

Suatu hari Rasulullah menjahit terompahnya sedangkan istrinya, ‘Aisyah, berada di dekatnya untuk memintal benang. Ketika itulah sang istri memandanginya. Dari kening beliau bercucur keringat yang ketika terkena sinar mentari tampak begitu indah, bagai mutiara yang menetes. Hal ini membuat ‘Aisyah terpesona dan tersipu malu.


Melihat gelagat aneh istrinya, Rasulullah menegur,

“Wahai ‘Aisyah, mengapa kau tampak bingung begitu?” demikian tanya beliau membuat ‘Aisyah semakin bingung.

“Wahai Rasulullah,” sahut ‘Aisyah, “Sejak tadi aku mencuri pandang terhadapmu. Dari keningmu menetes keringat bagai mutiara yang begitu indah. Kalau saja Abu Kabir al-Hudzaili (seorang penyair ulung) melihat sendiri keindahan ini, tentu ia akan menggubah syair untukmu,”

Salah kaprah dalam Meluruskan Shof Sholat


Bukan hal yang aneh kalau sebelum shalat, pak imam mengingatkan para jamaah sambil memeriksa barisan, ”Mohon shafnya dirapat dan diluruskan”.
Tapi pernahkan berdiri di samping Anda jamaah yang suka memepet-mepetkan kakinya ke kaki Anda? Bahkan hampir menginjak anda atau kaki jamaah lain?
Kalau Anda pernah mengalaminya, dan agak merasa risih, terus terang Penulis juga pernah mengalaminya. Dan ternyata tidak sedikit mereka yang mengalami dipepet-pepet seperti itu.
Sampai ada seorang jamaah di satu masjid curhat kepada penulis,”Pokoknya saya tidak mau shalat di samping dia!”, katanya. ”Kenapa?” tanya Penulis. ”Kakinya itu lho, masak saya dipepet-pepet terus sampai mau diinjak. Shalat saya malah jadi tidak khusyu’.”
Beberapa hari yang lalu, Penulis ditanya seseorang tentang hadits keharusan saling menempelnya mata kaki, sebagai bentuk kesempurnaan shaf. Katanya haditsnya shahih diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab Shahihnya. Dan ternyata memang hadits inilah yang disinyalir menjadi pijakan teman-teman yang beranggapan bahwa kaki harus benar-benar nempel dengan kaki jamaah lain.
Masalah ini mari kita bahas dengan kepala dingin, dengan merujuk ke kitab-kitab para ulama yang muktamad. Mari kita telusuri dan dengan seksama apa komentar para ulama dalam hal ini.