div id='fb-root'/>

Senin, 07 November 2016

KELAS MENULIS (4)

Zalim, adalah meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya. Seorang penulis yang zalim juga begitu, tidak meletakkan kata dan tanda baca pada tempatnya.
Beberapa hal yang harus diingat:
1. Jangan lupa meletakkan tanda baca seperti titik dan koma. Agar tulisan mudah dicerna. Untuk panduannya bisa beli buku kepenulisan Gery Keraf atau Js. Badudu. Atau paling gampang googling.
2. Setelah menulis titik dan koma, berilah spasi sebelum menulis kata. Kata yang jatuh setelah titik haruslah berhuruf kapital. Tapi tidak jika jatuh setelah koma.
3. Tanda baca tanya (?), seru (!), dan sebagainya tidak perlu dipisah dengan kata terakhir. Contoh, siapa namamu?
4. Jangan senang menyingkat huruf. Itu tidak baik.
5. Khusus di medsos, jangan lupa teliti dengan membaca lagi. Jika sudah terlanjur diposting, bisa disunting.
(Tulisanmu adalah dirimu)
https://scontent-sin6-1.xx.fbcdn.net/v/t1.0-9/

Sumber : Ahmd Syarif Yahya.

KELAS MENULIS (9)

https://scontent-sin6-1.xx.fbcdn.net/v/t1.0-0/s552x414/Sore ini materinya sesuai permintaan mas EM Nur Hidayatulloh. Yaitu seputar tulisan-tulisan mbeling yang penuh permainan istilah. Setelah kemarin Gunarso, sekarang Joko Susanto.
Tulisan di bawah ini untuk dibaca dan dipetik kreativitasnya, bukan untuk diamalkan adegan-adegannya.
SEPAKBOLA LIGA KUNING
Kehidupan adalah arena sepakbola ketika tanah lapang dibangun toko – pabrik – supermarket - parkantoran. Maka dimaklumkan bersepakbola di sembarang tempat. Adegan tendang-tendangan terjadi di ruang seminar kampus - gedung kesenian-pasar dan kantor polisi sebagai manifestasi "dari kemerdekaan berserikat berkumpul dan bersepakbola.
Telah terjadi pertandingan seru antara kesebalasan pejabat melawan dharma wanita di sebuah kamar hotel. Babak pertama tim bapakbapak tak kuasa menandingi kehebatan ibuibu. Setelah turun minum para pejabat tampil bergairah cenderung beringas. Bola ditendang jauh melangit tak kembali ke lapangan. Maka apa saja yang bentuknya menyerupai bola disepak-digasak-disundul-diremasremas. Serangan dilancarkan tim pejabat berkalikali mengoyak gawang lawan namun wasit tentukan ibuibu sebagai pemenangnya. Belakangan diketahui bapakbapak terlibat kasus doping ada yang memakai obat benkwat-jamu untuk pakde bahkan membuat ramuan tiga dimensi :ciu dioplos temulawak dan pil koplo.
Paling menarik kompetisi antara kesebelasan. mahasiswa melawan tentara dilangsungkan di ruang interograsi. Menit pertama para mahasiswa babakbelur menjadi sasaran tendangan beruntun yang dilancarkan secara tidak sengaja. Wasit acungkan dua kartu merah untuk tentara karena diketahui tidak membawa senjata api dan lima kartu merah untuk mahasiswa yang terbukti menerima duit dari sebuah LSM luar negeri. Para pemain dua kesebelasan samasama mengenakan kostum kuning juga wasit-petugas keamanan-hakim garis-penjual tisue dan seluruh penonton diwajibkan mengenakan kuning-kuning. Awak angkutan umum yang membawa para suporter terkenakewajiban itu. Becak-dokar-bemo dan biskota pokoknya segala jenis kendaraan harus berwarna kuning termasuk mobil plat hitam plat merah harus diganti plat kuning. Sebelumnya, panitia melalui siaran radio-televisi-koran dan majalah menganjurkan kepada masyarakat agar selama seminggu tidak menggosok gigi.
Di luar arena pertandingan seorang penjahat memakai kaos merah lari terbiritbirit dikejar polisi berseragam wereng cokelat. Penjahat melompat tembok stadion disusul polisi keduanya kejarkejaran di lapangan. Lihat adegan itu seluruh penonton mulai rakyat kecil-cendikiawan-senimanbudayawan-pengusaha-birokrat-politikus-bandar judi hingga penjual es lilin serentak menyanyikan lagu kebangsaan :
"Ole ole ole ole ole ole. Ole oloe ole ole ole ole.
Ole ole ole ole ole ole. ..
Penjahat berlari makin kencang keluar lapangan mencari tempat ngumpet masuk ke wc dekat tribun samping kiri. Polisi mendobrak pintu lantas bergelut di kamar kecil yang berwarna kuning pula. Penjahat berkaos merah dan polisi berseragam wereng cokelat keluar dari wc samasama menjadi kuning karena belepotan tinja. Sungguh sulit membedakan siapa preman siapa polisi karena keduanya samasama kuning.
"Ole ole ole ole ole ole. Ole ole ole ole ole ole:'
Indonesia. 1995

KELAS MENULIS (8)

Untuk kata ganti, baik orang pertama, kedua, ketiga, semua ditulis pakai huruf kecil jika di tengah kalimat. Semisal: aku, kamu, dia, beliau.
Tapi ada yang aneh ni, yaitu kata ANDA itu harus ditulis pakai A kapital baik di depan maupun tengah kalimat. Semisal: "Bagaimana kabar Anda?"
Jangan lupa ya bro
https://scontent-sin6-1.xx.fbcdn.net/v/t1.0-9/

KELAS MENULIS (7)

Selamat pagi bro!
Jangan lupa yah, kalau menulis (di) harus dipisah jika kata setelahnya menunjukkan tempat, contoh: di Jakarta. Nah yang sering lupa itu semisal kata: “di mana ada kamu”, (di) di situ tetap harus di pisah ya!

Kalau bukan tempat jangan dipisah bro. Contoh: dipukul, disikat, dipaksa, dll.

KELAS MENULIS (6)

Sebelum Anda membaca doa untuk tidur, saya ajak Anda untuk membaca sepenggal tulisan penulis favorit saya, Adrea Hirata dalam novelnya Cinta di Dalam Gelas.
Hirata mendeskripsikan kata Judes dengan rentetan kata yang so sweet sekali. Perhatikan!
"Adapun Midah adalah perempuan yang telah diperlakukan dengan tidak adil oleh hukum fisika. Daya tarik bumi telah menyebabkan pipinya yang tembam jatuh sehingga bibir atasnya membentuk garis yang cembung, dan hal itu hanya akan menyiarkan satu kesan tentang seseorang: judes."
Ayo tingkatkan kreativitasmu dalam merangkai kata!

KELAS MENULIS (5)

“Tidak, Pak. Sungguh tidak.”


)Ahmad Tohari adalah novelis dan cerpenis yang tulisannya banyak saya baca. Yang khas dari dirinya adalah kepiawaian dalam menggambarkan kehidupan rakyat jelata dengan kata-kata, bahasa, kias, dan diksi yang luar biasa.
Ahmad Tohari tidak pernah menulis tentang kehidupan Amerika, Inggris, Mesir, atau mana pun seperti novelis sekarang. Ia mahir mengangkat tema sederhana menjadi tulisan yang yasallam indahnya.
Bacalah cerpen di bawah ini, sebab tidak mudah mencari tulisan Ahmad Tohari.
SENYUM KARYAMIN
https://scontent-sin6-1.xx.fbcdn.net/v/t1.0-9/
Karyamin melangkah pelan dan sangat hati-hati. Beban yang menekan pundaknya adalah pikulan yang digantungi dua keranjang batu kali. Jalan tanah yang sedang didakinya sudah licin dibasahi air yang menetes dari tubuh Karyamin dan kawan-kawan, yang pulang balik mengangkat batu dari sungai ke pangkalan material di atas sana. Karyamin sudah berpengalaman agar setiap perjalananya selamat. Yakni berjalan menanjak sambil menjaga agar titik berat beban dan badannya tetap berada pada telapak kaki kiri atau kanannya. Pemindahan titik berat dari kaki kiri ke kaki kanannya pun harus dilakukan dengan baik. Karyamin harus memperhitungkan tarikan napas serta ayunan tangan demi keseimbangan yang sempurna.
Meskipun demikian, pagi ini Karyamin sudah dua kali tergelincir. Tubuhnya rubuh lalu menggelinding ke bawah, berkejaran dengan batu-batu yang tumpah dari keranjangnya. Dan setiap kali jatuh, Karyamin menjadi bahan tertawaan kawan-kawannya. Mereka, para pengumpul batu itu, senang mencari hiburan dengan cara menertawakan diri mereka sendiri.
Kali ini Karyamin merayap lebih hati-hati. Meski dengan lutut yang sudah bergetar, jemari kaki dicengkeramkannya ke tanah. Segala perhatian dipusatkan pada pengendalian keseimbangan sehingga wajahnya kelihatan tegang. Sementara itu, air terus mengucur dari celana dan tubuhnya yang basah. Dan karena pundaknya ditekan oleh beban yang sangat berat maka nadi di lehernya muncul menyembul kulit.
Boleh jadi Karyamin akan selamat sampai ke atas bila tak ada burung yang nakal. Seekor burung paruh udang terjun dari ranting yang menggantung di atas air, menyambar seekor ikan kecil, lalu melesat tanpa rasa salah hanya sejengkal di depan mata Karyamin.
“Bangsat!” teriak Karyamin yang sedetik kemudian sudah kehilangan keseimbangan. Tubuhnya bergulir sejenak, lalu jatuh terduduk dibarengi suara dua keranjang batu yang ruah. Tubuh itu ikut meluncur, tetapi terhenti karena tangan Karyamin berhasil mencengkeram rerumputan. Empat atau lima orang kawan Karyamin terbahak bersama. Mereka, para pengumpul batu itu, senang mencari hiburan dengan cara menertawakan diri mereka sendiri.
“Sudah, Min. Pulanglah. Kukira hatimu tertinggal di rumah sehingga kamu loyo terus,” kata Sarji yang diam-diam iri pada istri Karyamin yang muda dan gemuk.
“Memang bahaya meninggalkan istrimu seorang diri di rumah. Min, kamu ingat anak-anak muda petugas bank harian itu? Jangan kira mereka hanya datang setiap hari buat menagih setoran kepada istrimu. Jangan percaya kepada anak-anak muda penjual duit itu. Pulanglah. Istrimu kini pasti sedang digodanya.”
“Istrimu tidak hanya menarik mata petugas bank harian. Jangan dilupa tukang edar kupon buntut itu. Kudengar dia juga sering datang ke rumahmu bila kamu sedang keluar. Apa kamu juga percaya dia datang hanya untuk menjual kupon buntut? Jangan-jangan dia menjual buntutnya sendiri!”
Suara gelak tawa terdengar riuh di antara bunyi benturan batu-batu yang mereka lempar ke tepi sungai. Air sungai mendesau-desau oleh langkah-langkah mereka. Ada daun jati melayang, kemudian jatuh di permukaan sungai dan bergerak menentang arus karena tertiup angin. Agak di hilir sana terlihat tiga perempuan pulang dari pasar dan siap menyeberang. Para pencari batu itu diam. Mereka senang mencari hiburan dengan cara melihat perempuan yang mengangkat kain tinggi-tinggi.
Dan Karyamin masih terduduk sambil memandang kedua keranjangnya yang berantakan dan hampa. Angin yang bertiup lemah membuat kulitnya merinding, meski matahari sudah cukup tinggi. Burung paruh udang kembali melintas di atasnya. Karyamin ingin menyumpahinya, tetapi tiba-tiba rongga matanya penuh bintang. Terasa ada sarang lebah di dalam telinganya. Terdengar bunyi keruyuk dari lambungnya yang hanya berisi hawa. Dan mata Karyamin menangkap semuanya menjadi kuning berbinar-binar.
Tetapi kawan-kawan Karyamin mulai berceloteh tentang perempuan yang sedang menyeberang. Mereka melihat sesuatu yang enak dipandang. Atau sesuatu itu bisa melupakan buat sementara perihnya jemari yang selalu mengais bebatuan; tentang tengkulak yang sudah setengah bulan menghilang dengan membawa satu truk batu yang belum dibayarnya; tentang tukang nasi pecel yang siang nanti pasti datang menagih mereka. Dan tentang nomor buntut yang selalu gagal mereka tangkap.
“Min!” teriak Sarji. “Kamu diam saja, apakah kamu tidak melihat ikan putih-putih sebesar paha?”
Mereka tertawa bersama. Mereka, para pengumpul batu itu, memang pandai bergembira dengan cara menertawakan diri mereka sendiri. Dan Karyamin tidak ikut tertawa, melainkan cukup tersenyum. Bagi mereka, tawa atau senyum sama-sama sah sebagai perlindungan terakhir. Tawa dan senyum bagi mereka adalah simbol kemenangan terhadap tengkulak, terhadap rendahnya harga batu, atau terhadap licinnya tanjakan. Pagi itu senyum Karyamin pun menjadi tanda kemenangan atas perutnya yang sudah mulai melilit dan matanya yang berkunang-kunang.
Memang. Karyamin hanya tersenyum. Lalu bangkit meski kepalanya pening dan langit seakan berputar. Diambilnya keranjang dan pikulan, kemudian Karyamin berjalan menaiki tanjakan. Dia tersenyum ketika menapaki tanah licin yang berparut bekas perosotan tubuhnya tadi. Di punggung tanjakan, Karyamin terpaku sejenak melihat tumpukan batu yang belum lagi mencapai seperempat kubik, tetapi harus ditinggalkannya. Di bawah pohon waru, Saidah sedang menggelar dagangannya, nasi pecel. Jakun Karyamin turun naik. Ususnya terasa terpilin.
“Masih pagi kok mau pulang, Min?” tanya Saidah. “Sakit?”
Karyamin menggeleng, dan tersenyum. Saidah memperhatikan bibirnya yang membiru dan kedua telapak tangannya yang pucat. Setelah dekat, Saidah mendengar suara keruyuk dari perut Karyamin.
“Makan, Min?”
“Tidak. Beri aku minum saja. Daganganmu sudah ciut seperti itu. Aku tak ingin menambah utang.”
“Iya, Min, iya. Tetapi kamu lapar, kan?”
Karyamin hanya tersenyum sambil menerima segelas air yang disodorkan oleh Saidah. Ada kehangatan menyapu kerongkongan Karyamin terus ke lambungnya.
“Makan, ya Min? aku tak tahan melihat orang lapar. Tak usah bayar dulu. Aku sabar menunggu tengkulak datang. Batumu juga belum dibayarnya, kan?”
Si paruh udang kembali melintas cepat dengan suara mencecet. Karyamin tak lagi membencinya karena sadar, burung yang demikian pasti sedang mencari makan buat anak-anaknya dalam sarang entah di mana. Karyamin membayangkan anak-anak si paruh udang sedang meringkuk lemah dalam sarang yang dibangun dalam tanah di sebuah tebing yang terlindung. Angin kembali bertiup. Daun-daun jati beterbangan dan beberapa di antaranya jatuh ke permukaan sungai. Daun-daun itu selalu saja bergerak menentang arus karena dorongan angin.
”Jadi, kamu sungguh tak mau makan, Min?” tanya Saidah ketika melihat Karyamin bangkit.
”Tidak. Kalau kamu tak tahan melihat aku lapar, aku pun tak tega melihat daganganmu habis karena utang-utangku dan kawan-kawan.”
”Iya Min, iya. Tetapi….”
Saidah memutus kata-katanya sendiri karena Karyamin sudah berjalan menjauh. Tetapi saidah masih sempat melihat Karyamin menoleh kepadanya sambil tersenyum. Saidah pun tersenyum sambil menelan ludah berulang-ulang. Ada yang mengganjal di tenggorokan yang tak berhasil didorongnya ke dalam. Diperhatikannya Karyamin yang berjalan melalui lorong liar sepanjang tepi sungai. Kawan-kawan Karyamin menyeru dengan segala macam seloroh cabul. Tetapi Karyamin hanya sekali berhenti dan menoleh sambil melempar senyum.
Sebelum naik meninggalkan pelataran sungai, mata Karyamin menangkap sesuatu yang bergerak pada sebuah ranting yang menggantung di atas air. Oh, si paruh udang. Punggungnya biru mengkilap, dadanya putih bersih, dan paruhnya merah saga. Tiba-tiba burung itu menukik menyambar kan kepala timah sehingga air berkecipak. Dengan mangsa di paruhnya, burung itu melesat melintasi para pencari batu, naik menghindari rumpun gelagah dan lenyap di balik gerumbul pandan. Ada rasa iri di hati Karyamin terhadap si paruh udang. Tetapi dia hanya bisa tersenyum sambil melihat dua keranjangnya yang kosong.
Sesungguhnya Karyamin tidak tahu betul mengapa dia harus pulang. Di rumahnya tak ada sesuatu buat mengusir suara keruyuk dari lambungnya. Istrinya juga tak perlu dikhawatirkan. Oh ya, Karyamin ingat bahwa istrinya memang layak dijadikan alasan buat pulang. Semalaman tadi istrinya tak bisa tidur lantaran bisul di puncak pantatnya. “Maka apa salahnya bila aku pulang buat menemani istriku yang meriang.”
Karyamin mencoba berjalan lebih cepat meskipun kadang secara tiba-tiba banyak kunang-kunang menyerbu ke dalam rongga matanyta. Setelah melintasi titian Karyamin melihat sebutir buah jambu yang masak. Dia ingin memungutnya, tetapi urung karena pada buah itu terlihat jelas bekas gigitan kampret. Dilihatnya juga buah salak berceceran di tanah di sekitar pohonnya. Karyamin memungut sebuah, digigit, lalu dilemparkannya jauh-jauh. Lidahnya seakan terkena air tuba oleh rasa buah salak yang masih mentah. Dan Karyamin terus berjalan. Telinganya mendenging ketika Karyamin harus menempuh sebuah tanjakan. Tetapi tak mengapa, karena di balik tanjakan itulah rumahnya.
Sebelum habis mendaki tanjakan, Karyamin mendadak berhenti. Dia melihat dua buah sepeda jengki diparkir di halaman rumahnya. Denging dalam telinganya terdengar semakin nyaring. Kunang-kunang di matanya pun semakin banyak. Maka Karyamin sungguh-sungguh berhenti, dan termangu. Dibayangkan istrinya yang sedang sakit harus menghadapi dua penagih bank harian. Padahal Karyamin tahu, istrinya tidak mampu membayar kewajibannya hari ini, hari esok, hari lusa, dan entah hingga kapan, seperti entah kapan datangnya tengkulak yang telah setengah bulan membawa batunya.
Masih dengan seribu kunang-kunang di matanya, Karyamin mulai berpikir apa perlunya dia pulang. Dia merasa pasti tak bisa menolong keadaan, atau setidaknya menolong istrinya yang sedang menghadapi dua penagih bank harian. Maka pelan-pelan Karyamin membalikkan badan, siap kembali turun. Namun di bawah sana Karyamin melihat seorang lelaki dengan baju batik bermotif tertentu dan berlengan panjang. Kopiahnya yang mulai botak kemerahan meyakinkan Karyamin bahwa lelaki itu adalah Pak Pamong.
“Nah, akhirnya kamu ketemu juga, Min. Kucari kau di rumah, tak ada. Di pangkalan batu, tak ada. Kamu mau menghindar, ya?”
“Menghindar?”
“Ya, kamu memang mbeling, Min. di gerumbul ini hanya kamu yang belum berpartisipasi. Hanya kamu yang belum setor uang dana Afrika, dana untuk menolong orang-orang yang kelaparan di sana. Nah, sekarang hari terakhir. Aku tak mau lebih lama kaupersulit.”
Karyamin mendengar suara napas sendiri. Samar-samar Karyamin juga mendengar detak jantung sendiri. Tetapi karyamin tidak melihat bibir sendiri yang mulai menyungging senyum. Senyum yang sangat baik untuk mewakili kesadaran yang mendalam akan diri serta situasi yang harus dihadapinya. Sayangnya, Pak Pamong malah menjadi marah oleh senyum Karyamin.
“Kamu menghina aku, Min?”
“Kalau tidak, mengapa kamu tersenyum-senyum? Hayo cepat; mana uang iuranmu?”
Kali ini Karyamin tidak hanya tersenyum, melainkan tertawa keras-keras. Demikian keras sehingga mengundang seribu lebah masuk ke telinganya, seribu kunang masuk ke matanya. Lambungnya yang kampong berguncang-guncang dan merapuhkan keseimbangan seluruh tubuhnya. Ketika melihat tubuh Karyamin jatuh terguling ke lembah Pak Pamong berusaha menahannya. Sayang, gagal.
* Tohari, Ahmad, “Senyum Karyamin, Kumpulan Cerpen”, Gramedia, Juni 1989

KELAS MENULIS (3)

Kali ini, saya memberikan materi cara menulis cerita yang menarik. Saya sudah sering membaca tulisan Pak Gunarso, beliau memang pakar menulis cerita lucu-saru-ilmiyah dan piawai bermain istilah:
Silakan baca semoga menginspirasi:
MENGEKSEKUSI BIANG MASALAH
(dimuat di Pos Kota 11 Agustus 2013)

Aspirasi urusan bawah memang menjadi hak setiap anak bangsa, termasuk kalangan janda. Tapi gaya pacaran Ny. Sumi, 45, yang terlalu terbuka agaknya membuat sang anak, Kadir, 20, malu. Tak tahan ibunya dipergunjingkan warga, dia nekad mengeksekusi Takim, 48, kekasih ibu yang jadi biang masalah.
https://scontent-sin6-1.xx.fbcdn.net/v/t1.0-9/Tak ada satu pasalpun dalam KUHP yang melarang orang pacaran, sebab berkasih-kasihan dengan lawan jenisnya, sudah menjadi fitrah manusia. Tetapi meski dijamin undang-undang, sebagai manusia berbudaya haruslah melalui koridor-koridor agama dan etika. Jangan asal nyosor saja! Sebab meski umat manusia termasuk makhluk homo sapiens, tapi janganlah kelakuannya seperti sapi, asal main seruduk. Allah Swt pun menggariskan: “Dia menciptakan pasangan untukmu dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa cenderung tenteram kepadanya. (QS Rum: 21).
Indahnya kemesraan dalam perkawinan, sesungguhnya juga menjadi harapan Ny. Sumi yang menjanda sejak 5 tahun lalu. Tapi harapan tinggal harapan, sebab Takim kekasihnya ternyata masih punya istri. Sebetulnya bisa saja Sumi memberikan opsi: kalau pilih aku, ceraikan istrimu. Tapi sebagai perempuan, dia tak tega menyakiti kaumnya sendiri. Kalau begitu, kenapa tidak cari lelaki lain saja? “Aku sudah kadung mencintai dia….,” kata janda dari Desa Sendangharjo Kecamatan Ngasem Kabupaten Bojonegoro (Jatim) ini.
Karena ditimbang padha abote (sama berat) tersebut, Takim terus memacari janda Sumi secara diam-diam. Sebagai petani, dia pamit pada istri untuk mencangkul ke sawah, tapi prateknya malah mencangkul “sawah” janda Sumi di kampung sebelah. Lain hari lagi dia beralasan mau ngrabuk (menabur pupuk), tapi sebetulnya tengah memupuk cinta kasihnya bersama Sumi. Kalau pulangnya kemalaman, katanya mampir dulu ke rumah teman. Pendek kata, sejak punya selingkuhan Takim jadi gemar menciptakan kebohongan publik.
Anak Ny. Sumi, si Kadir, sebetulnya tak suka ibunya pacaran lagi. Katanya, sudah tua ini, mbok sudah momong dan membesarkan anak-anak saja. Kadir yang non Srimulat ini memang belum pernah berkeluarga, sehingga belum memahami seperti apa aspirasi urusan bawah sang ibu. Soal isi perut memang gampang diatasi, tapi masalah kebutuhan bawah perut? “Kowe cah cilik durung ngerti butuhe wong tuwa (kamu anak kecil belum tahu kebutuhan orangtua),” kata Sumi pernah memarahi Kadir.
Hari-hari selanjutnya makin seru saja Sumi – Takim menjalin cinta, sampai-sampai menjadi pergunjingan warga desa. Bila Kadir mendengar orang bergerombol membahas ibunya, hatinya sakit dan malu. Lantaran ibunya tak bisa diingatkan, dia mencoba memberi pengertian pada Takim, agar jangan menggangu ibunya. Ternyata Takim dan Sumi memang satu fraksi hanya beda komisi, sehingga jawabnya pun sama.Intinya, Takim terus akan memacari janda Sumi sepanjang dianya masih mau.
Seandainya Kadir ini seperti Kadir Srimulat, pasti dia akan menakut-nakuti Takim dengan kalimat: tak bunuh kamu! Tapi Kadir anak Sumi tak berani bertindak seperti itu, sebab pasal KUHP (pasal 285 jo pasal 64) menyebutkan, ancaman bunuh orang bisa kena sanski hukum. Karenanya, setiap melihat Takim bertandang ke rumahnya, dia hanya bisa menekuk wajah dan menendang pintu …..derrrrrr! Tapi dasar Takim sudah mati rasa, sikap perlawanan Kadir tak juga digubris.
Akibat warga terus memperolokkan ibunya, lama-lama Kadir jadi mata gelap. Dengan membawa pentungan dia menekan Takim untuk tidak memacari ibunya. Ee, lelaki beranak istri ini justru marah-marah. Langsung saja pentungan di tangan diayunkan berkali-kali, sehingga Takim langsung roboh mandi darah. Sementara Kadir diserahkan ke polisi, Takim dilarikan ke Puskesmas Ngasem. Tapi akibat begitu kuatnya Kadir menghajar kekasih ibunya, nyawa Takim tak tertolong lagi.
Yang satu masuk penjara, yang satu masuk liang kubur! (HS/Gunarso TS)

KELAS MENULIS (2)

Tulisan adalah suguhan. Penulis adalah penyuguh. Pembaca adalah tamu. Untuk itu:
1. Tata serapi mungkin menu suguhanmu. Atur kalimat dengan baik: titik, koma, dan tanda baca lainnya, agar pembaca nantinya tidak kloloden.
2. Atur spasi dan alenia. (Khusus di medsos) biasakan untuk memberi jarak se-enter antara satu alenia dengan alenia lainnya. Agar tulisan tidak uyel-uyelan seperti pengantri raskin.
3. Jangan menggurui. Karena tulisan yang menggurui itu pokoke sikak sekali.
Misal Anda menulis: "Ali bin Abi Thalib itu adalah menantunya Nabi." Kalimat ini sangat menggurui.
Sebaiknya, pakai kata semisal begini: "Ali bin Abi Thalib yang menantunya Nabi itu, ternyata......"
Atau begini: "Sebagaimana kita tahu, bahwa Ali bin Abi Thalib adalah menantu Nabi."
Atau begini: "SIapa yang tak kenal menantu nabi yang satu ini: Ali,"

Dll
https://scontent-sin6-1.xx.fbcdn.net/v/t1.0-9/

KELAS MENULIS (1)


a. Dalam surah Al-Alaq, sebelum sampai pada ayat 'alama bil qalam' (yang mengajar dengan perantara tulis), Allah memerintah Nabi untuk 'iqra'' terlebih dahulu.
Itu berarti, kita tidak akan bisa menulis dengan baik, sebelum kita membaca. Dan kita tidak akan menjadi mahir menulis sebelum kita banyak membaca.
Tulisan kita, akan sangat menunjukkan berapa banyak buku yang kita baca. Semakin tulisan itu tidak memiliki karakter, maka semakin tampaklah penulisnya tidak atau kurang membaca. Begitu pun sebaliknya.
Untuk menulis satu alinia, dibutuhkan membaca dua atau duaratus buku. Maka, bacalah!
b. Pilihlah satu atau dua penulis yang paling Anda gemari karakter bahasa dan perikepenulisannya. Bacalah karya-karyanya sesering mungkin dan berulang-ulang, karena aktivitas membaca pada dasarnya adalah kreatifitas MEREKAM KATA/BAHASA dan KARAKTER MERANGKAINYA.
c. Bacalah terus sampai buku bacaan Anda itu menularkan sebuah karakter tertentu. Mula-mula, Anda bisa mencuri-curi alias menjiplak karya tertentu sebagai bahan belajar. Tidak apa. Karena MUI tidak mengharamkan itu, selama untuk belajar. Ulangi terus sampai tulisan yang Anda curi itu mempengaruhi. Nah, tanda-tanda bahwa tulisan itu sudah mempengaruhi adalah ketika Anda sudah mulai bisa berinovasi.
Kerjakan!
https://scontent-sin6-1.xx.fbcdn.net/v/t1.0-9/

sumber : Gus Yahya

Rabu, 26 Oktober 2016

PARA KEKASIH IBLIS

OLEH : MUHAMMAD AINUN NADJIB
Semakin banyak orang tahu bahwa dunia ini bergerak menuju “Indonesia harus terus hidup, tapi jangan sampai besar dan kuat. Negara Indonesia harus lemah, bangsa Indonesia harus kerdil”.

Maka orasi seorang tokoh tua di sebuah “rapat gelap” ini mungkin justru merupakan ungkapan cinta yang mendalam dan pembelaan kepada Indonesia:

“Kita bangsa Indonesia jangan sampai berhenti berjuang sebelum Indonesia benar-benar total kehilangan Indonesianya. UUD perlu kita amandemen terus sampai berapa kalipun sampai kelak nasionalisme dan kedaulatan keIndonesiaan terkikis habis”.
“Setiap bikin undang-undang baru, peraturan-peraturan baru, di lembaga kenegaraan sebelah manapun, di tingkat paling atas sampai bawah, sebaiknya dipastikan menuju proyek besar sejarah de-nasionalisasi Indonesia hingga titik paling nadir”.

“Demikian juga policy dan penanganan segala bidang: perdagangan, pertanian, perpajakan, pendidikan, kebudayaan, sampaipun cara berpikir dan selera makan, hendaknya jangan memanjakan ke-Indonesiaan. Bangsa Indonesia adalah bangsa besar yang dengan ketangguhannya siap ditimpa dan memikul ujian-ujian sangat berat yang tak mungkin dipanggul oleh bangsa-bangsa lain”.

“Pemimpin bangsa berikutnya haruslah lebih buruk. Nasionalisme Indonesia harus dihajar habis sampai tingkat kematian yang memungkinkan ia lahir kembali. Kita memerlukan tempo yang lebih tinggi untuk menyelenggarakan kehancuran, kebobrokan dan kebusukan — bangsa kita amat sangat tahan derita, sanggup hidup nyaman dalam kebusukan, bahkan mampu hidup sebagai kebusukan itu sendiri”.

“Dialektika Penghancuran Nasional harus dipacu habis. Kokohkan setiap pemerintahan sebagai perusahaan yang memanipulasi dan mengeksploitasi rakyatnya. Proyek penjualan tanah air dengan segala kekayaannya harus dijadikan ideologi utama”.

Pasti itu bukan pernyataan politik. Bukan anjuran sejarah. Itu jeritan orang patah hati.

Kalau Negara rusak, pemerintahan penuh dusta, sistem bobrok dan prinsip nilai jungkir-balik: yang terutama menangis adalah “orang”. Adalah “manusia”. Adapun Negara, pemerintah, ssstem, nilai, tak bisa menangis, tak bisa bersedih. Juga tak menanggung apa-apa. Yang menanggung duka derita adalah manusia.

Jadi tulisan ini tak lebih hanyalah tegur sapa dengan sesama manusia, dengan derita hatinya, tangisnya, sepi dan bisunya.

Dan apa boleh buat, kalau menyapa manusia, tidak mungkin dilakukan tanpa menyapa juga pihak yang bikin manusia: Tuhan. Kemudian juga IBlis, “hulu” derita ummat manusia.

Iblis berkata : “Tahukan engkau, Muhammad, aku adalah asal usul dusta. Aku adalah makhluk pertama yang berdusta. Para pendusta di bumi adalah sahabatku. Dan mereka yang bersumpah kemudian mendustakan sumpah itu, mereka adalah kekasihku”.

Kurang jelaskah pemandangan wajah Indonesia sekarang ini di kalimat Iblis itu? Kurang tampakkah, sosok pemerintahan Indonesia, tradisi mental banyak pejabatnya, pengkhianatan terhadap amanat kerakyatannya, juga manipulasi kebijakan yang sangat tidak bijak — pada pernyataan Iblis itu?

Dan, pen “citra” an, apakah gerangan ia kalau bukan dusta? Siapakah yang memamerkan wajahnya, menyorong punggungnya, menyodorkan dirinya untuk menjadi pemimpin, selain sahabat dan kekasih Iblis?

Iblis tidak berjarak dengan diri kita, dengan karakter budaya, politik dan pasar sejarah kita. Malah Tuhan yang jaraknya cenderung semakin menjauh dari kita, kecuali pas kita perlukan untuk memperoleh keuntungan atau mentopengi muka.

Akan tetapi dalam kehidupan kita Iblis bukan fakta. Ia hanya simbol. Idiom. Icon. Hanya abastraksi untuk menuding “kambing hitam”. Atau Tuhan kita perlukan untuk kapitalisasi karier, bisnis pendidikan, usaha dagang sedekah dan industri zakat, kostum religi perbankan dan bermacam-macam lagi dusta liberal penyelenggaraan kapitalisme kita.

Tuhan juga makin jadi “dongeng”. Segera Ia akan masuk daftar dongeng sesudah Malaikat dan dan Iblis. Peta mitos. Khayalan tentang suatu pemahaman yang disepakati istilahnya: Iblis, Setan, Dajjal, sebagaimana abstraksi kata Bajingan, Bangsat, Dancuk, Anjing. Sebab pada makian “Anjing!” yang dimaksud bukan benar-benar anjing. Anjing adalah binatang yang baik, tidak pernah berdosa, tidak pernah berbuat jahat dan tidak ada statemen Tuhan yang menyatakan bahwa anjing masuk neraka. Bahkan dalam faham pewayangan malah Puntadewa atau Prabu Dharmakusuma yang hidupnya sangat ikhlas dan sumeleh, tidak bisa naik ke langit yang lebih tinggi sementara anjingnya melaju ke sana.

Iblis dipahami sebagai simbol, tidak sebagai fakta. Itupun wilayah berlakunya simbolisasi Iblis tidak dipetakan secara memadai. Iblis diidentifikasi sebagai “idiom” untuk menyebut segala jenis keburukan dan kejahatan manusia — dan itu tidak sepenuhnya benar. Sedangkan “arupadatu” di Borobudur pun fakta, tak hanya “rupa datu” yang tampak oleh mata, yang tergolong “Ilmu Katon”: pemahaman tentang segala sesuatu yang bisa dilihat dengan mata. Iblis sendiri tidak sepenuhnya tinggal di wilayah “arupadatu”. Ia sangat faktual di “rupadatu”, sebab ia berada pada syariat utama kehidupan manusia, yakni darah yang mengalir di dalam tubuhnya.

“Kamu Muhammad”, kata Iblis suatu hari, “tak akan bisa berbahagia dengan ummatmu, karena aku bisa memasuki darah mereka tanpa mereka bisa menemukanku”. Iblis melanjutkan, “aku minta kepada Allah agar menganugerahiku kemampuan untuk mengalir di dalam darah manusia, dan Allah menjawab Silahkan!”.

Sebentar. Yang menyuruh Iblis datang ke Muhammad adalah Tuhan sendiri. Yang disuruh itu lazimnya adalah anak buah. Dan kalau musuh tidak pada tempatnya menyuruh musuh. Allah menginstruksikan agar Iblis tidak berdusta kepada Muhammad, menjawab pertanyaan dengan jujur, serta membuka semua rahasia tugasnya dari Allah di medan kehidupan manusia.

Coba ingat kata-kata Iblis “Akulah makhluk pertama yang berdusta”. Fakta dusta Iblis yang pertama adalah ia tidak mau bersujud kepada Adam. Penolakan untuk menghormati manusia ini parallel dengan pernyataan semua Malaikat kepada Tuhan: “Kenapa Engkau ciptakan manusia, yang kerjanya merusak bumi dan menumpahkan darah”. Andai di-kalimat-kan, Iblis meneruskan: “Maka aku menolak bersujud kepada Adam”.

Kemudian Allah mengizinkan Iblis yang meminta “tangguh waktu” sampai hari Kiamat, untuk kelak membuktikan bahwa setelah menjalani sekian peradaban, manusia terbukti tidak punya kelayakan untuk dihormati atau “disembah” oleh Iblis dan para Malaikat. Dan Iblis hari ini tersenyum-senyum: tak perlu nunggu sampai Kiamat, datang saja ke Indonesia tanggal berapa bulan apa saja untuk menemukan bahwa penolakan bersujud oleh Iblis itu pada hakekatnya bukan dusta.

Jadi, siapa yang lebih kompatibel dengan neraka: kita atau Iblis? Ketika ada orang berbuat jahat, kita maki “Dasar Iblis!”, secara idiomatik makian itu tidak faktual. Ketika 70.000 anak-anak Iblis berdebat, lantas salah satu dari mereka memaki “Dasar manusia!”, itu bisa jadi itu malah benar dan jujur.

Kayaknya salah satu kesalahan manusia yang paling serius adalah memanipulasi Iblis. Padahal seluruh keburukan yang kita ludahkan itu bukan bikinan Iblis, melainkan produk keputusan kita sendiri.

“Aku tidak diberi kemampuan oleh Allah untuk menyesatkan manusia”, kata Iblis lagi kepada Muhammad, “Aku hanya membisiki dan menggoda. Kalau aku dikasih kuasa untuk menyesatkan manusia, maka tak akan tersisa satu orangpun yang tidak menjadi pengikutmu. Sebagaimana engkau Muhammad, tak ada kemampuanmu untuk memberi hidayah kepada manusia. Engkau hanya berhak dan mampu menyampaikan, tetapi tak bisa mengubah hati manusia. Sebab kalau kau dianugerahi kesanggupan untuk memberi hidayah, tak akan ada satu orangpun yang menjadi pengikutku”.

Begitu banyak — mengacu ke Borobudur — fakta “rupadatu” pada kehidupan manusia yang mata mereka tak melihatnya. Udara yang ia hirup, suaranya sendiri, bahkan mata tidak mampu melihat mata, paling jauh ia melihat bayangannya di cermin, tapi bukan diri mata itu sendiri. Jangankan lagi dengan semakin canggihnya teknologi ultra-modern sekarang: kita bingung siaran televisi itu berasal dari “rupadatu”, diantarkan oleh “arupadatu”, ditangkap dan diekspressikan secara “rupadatu”. Belum lagi ke kerjaan frekwensi yang lain: software di komputer, lalulalang Sms, Bbm, unduh ini unggah itu. Dulu saya menyangka telegram itu dikirim kertasnya meluncur nyantol lewat kabel-kabel sepanjang jalan. Se-nyata dan se-faktual itulah Iblis dalam kehidupan kita, bahkan di dalam diri kita, bahkan ia mengalir di dalam darah kita.

Maka sebagaimana formula “casting” Iblis, orasi tokoh tua kita di atas tepatnya dipahami tidak dengan logika linier. Ia suatu lipatan, mungkin dialektika berpikir yang zigzag, mungkin spiral, mungkin siklikal. Kalimat seniman kita “Nasionalisme Indonesia harus dihajar habis sampai tingkat kematian yang memungkinkan ia lahir kembali” adalah sisipan cita-cita mulia di tengah deretan pernyataan yang seolah-olah mendorong kita ke kehancuran.

Muhammad bertanya, “Siapa temanmu?”

Iblis menjawab, “Para pemakan riba”. Sangat jelas mappingnya di Indonesia.

“Siapa tamumu?”

“Para pencuri”. Sampai-sampai diperlukan KPK, yang kita doakan segera bubar, yakni sesudah Kepolisian Kejaksaan Kehakiman bisa dipercaya untuk menangani perilaku tamu-tamu Iblis.

“Siapa utusanmu?”

“Tukang-tukang sihir”. Sihir pemikiran, cara berpikir, peta manipulasi wacana berpikir, di Sekolah, Kampus, semua media wadah pemikiran.

“Siapa teman tidurmu?”

“Para pemabuk”. Mabuk idolatri, mabuk tayangan-tayangan, mabuk artis-artisan, Ustadz-ustadzan, Gus-Gusan, Kiai-Kiaian… yang terbuat dari plastik… seperti mobil-mobilan untuk kanak-kanak di pasar Kecamatan.

Iblis juga menyindir kita: “Gosip dan adu-domba adalah hobiku”.

Ada baiknya kita undang Iblis menjadi narasumber rembug nasional, dengan syarat: “Aku mendatangi semua manusia, yang bodoh maupun pintar, yang durjana atau yang salah, yang bisa membaca atau buta huruf. Semuanya, kecuali orang ikhlas”.

Yogya 25 September 2012
Dimuat di Kolom, Majalah Gatra No. 49 XVIII 11 Oktober – 17 Oktober 2012.