div id='fb-root'/>

Kebingungan Narman..'

Dolkecut :
Kyai...." Narman itu karep- karepnya gimana to"....Peening aku..Kyai.

Kyai Jarkoni :
Karepe Narman Kuwi Yo..Apek Cutt...' Jan- Janee...".

Dolkecut :
Lohh...' Kok palah Apek ..' Kyai..." Jelas Ngoto- nyoto dia mempertanyakan NKRI gitu Kok...", bahasa kasarnya , Ngunekne Indonesia Negara "Toghut" Setan..!! negara mayoristas Islam tapi Ngak Syar'i.
Gimana To Njenengan.." jare Seruane Njengan " NKRI harga MATI..'. Piye Too... Ora Cethoo...." jangan bikin saya Binggung gitu Kyai...?'!!

Kyai Jarkoni :
Iyo Karep- Karep'e Apek Jane..' Tapi Dia tergolong Orang yang "Tidak Tau"
maka yang keluar dari Mulutnya adalah Kebengisan" karna dia "Ngak DOng Itu Tadi..".

DOlkecut :
Ngak Dong GImana Maksut' njenengan Kyai..".?

Kyai Jarkoni :
Mereka Ora Paham Cut..." kalo Inti dari Islam itu Untuk di"Laksanaken- dilakoni- di Amalke, Bukan di formalkan- Institusikan.
Kalo Islam menjadi sebuah Negara. maka "Islam" Menjadi Kecil Cuttt...' Paham KOwee...!!!!

Dokecut :
Terus yang pas Kados Pundi Kyai?"....

Kyai Jarkoni :
Yang pas kuwi ya NKRI iki CUtt...."
menampung semuanya. negara berdasarkan Persatuan.
"tidak memaksakan kedendak', Ora Mekso-Mekso.
Kowe Ngerti TO CUttt..." nek barang di Pekso Kuwi Mesti Ora Kepenak..."
Gusti Alloh wae wis ngasih Jaminan, " Ora ono Paksaan nang ngone Perkono Agomo".
kanjeng nabi Yo.." nyontokke ..' dengan Klausul " Saqofah Madaniyah'nya", berjanjian saling Akur antara, Islam, Nasrani dan Yahudi".
Nek Gelem Cuttttt....." kanjeng Nabi ket biyen Wis Ngawe "Negoro Islam" tapi tidak.." karan kanjeng Nabi Memahami Esensi CUtt..'Dudu ngur Perkoro "Kesing Tokk...' Ngerti Kowe?"........

DOlkecut :
La terus Nek Pikirane Narman Niko?"......

Kyai Jarkoni :
Yoo..." Maklum wae..'
Mungkin Mbiyen pas Mbah - Mbahne Dewe Nglawan "LONDO",
Mbahne De'e Ora melu'nek ngak.." malah Gek Macul nang sawah atawa Ngungsi ning sawah. dadine ora paham Alasan Kyai-Kyai Nyekeli NKRI, Ora Paham alasane HadrotusSyeh K.H Hasyim Asyari ngetokne "Resolusi Jihad".
Mungkin LO Cutttt..."

Dolkecut :.
Ngih Mungkin palin Kyai..' Gitu aja Kok Repot ngih Kyai.." hehehe



http://panjimas.com/news/2014/08/19/pertanyaan-kritis-munarman-jika-ulama-fatwakan-khilafah-isis-tidak-sah-apakah-negara-anda-sah-menurut-syariah-islam/


Hakekat Semangat Kebangsaan Kita Oleh Abdurrahman Wahid

Hakekat Semangat Kebangsaan Kita
Oleh Abdurrahman Wahid
Ketika pada tahun 1933, KH. M. Hasjim Asy’ari Tebuireng (Jombang) memerintahkan putra beliau KH. Wahid Hasjim yang baru pulang dari Tanah Suci Mekkah untuk mempersiapkan Muktamar NU ke-9 di Banjarmasin (Borneo Selatan), pertanyaan tentang kebangsaan lalu muncul. Dijawab oleh beliau, bahwa kita memerlukan pembahasan terus-menerus antara ajaran agama Islam dan paham kebangsaan/nasionalisme tersebut. Lalu menjadi jelaslah, bahwa di negeri ini ajaran agama Islam tidak bisa lepas dari faktor kebangsaan tersebut.
Kalau hal ini dilupakan, maka ‘perjuangan Islam’ di negeri ini hanya akan diikuti oleh jumlah kecil dari para anak bangsa. Mayoritas anak bangsa itu tidak biasa berjuang terlepas dari faham kebangsaan/ nasionalisme, karena hal itu memang sudah lama dilakukan di negeri ini. Wangsa Syailendra dari kaum Buddhis di Pulau Sumatera sudah merasakan masalah tersebut sejak abad ke-6 Masehi. Penjelajah Buddhis dari daratan Tiongkok, bernama Fa-Hien pada abad ke-6 Masehi mendapati bahwa dinasti Sriwijaya di sebelah Selatan Sumatera menyimpan semangat kebangsaan dalam kehidupan mereka.
Ketika orang-orang Sriwijaya menyerbu pulau Jawa melalui Pekalongan sekarang ini, kemudian melewati Kerajaan Hindu Kalingga di Wonosobo sekarang ini, mendirikan Candi Borobudur di daerah Muntilan (Magelang sekarang), dua abad kemudian, mereka harus menerima kenyataan akan pembangunan Candi Prambanan (Lara Jonggrang) yang bercorak Hindu Buddha. Ketika kemudian dari kalangan Hindu dan Buddha secara terpisah menunjukkan reaksi atas ‘agama campuran’ tersebut, maka rakyat Prambanan pada abad ke-10 Masehi berpindah secara besar-besaran ke wilayah Kediri.
Agama Hindu-Budha itu, disebut juga agama Bhairawa, kemudian meneruskan perjalanan dan menjadi agama resmi Kerajaan Daha di kawasan Kediri. Kemudian, mereka berpindah ke Singasari, sebelum pada akhirnya menjadi agama yang hidup di Kerajaan Majapahit. Ditempat baru itu, ‘agama campuran’ itu harus menerima kehadiran gerakan Islam di Desa Terik (terjemahan kata Tarikat di tepian sungai Brantas) yang berada dibawah perlindungan angkatan laut Tiongkok yang beragama Islam, waktu itu.
Jadi pluralitas dalam bentuk dialog terbuka itu, sudah lama dijalani bangsa Indonesia. Kita belum lagi berbicara tentang kerajaan Buddha di Pakuan (sering juga dinamai Tarumanegara) dekat Bogor. Sekarang juga orang-orang ‘beragama asli’ seperti Sunda Wiwitan di kalangan orang-orang Badui dan sebagainya di Jawa Barat.
Ketika kemudian Mahapatih Gajah Mada dari Majapahit ‘mengatur’ terbunuhnya Putri Dyah Pitaloka di Bubat (sebelah utara Jawa Timur dekat Gresik sekarang), motifnya tidak lain adalah ketakutan akan munculnya aliansi politik militer antara kerajaan Hindu di Majapahit di bawah Raja Hayam Wuruk (Brawijaya IV) yang beragama Hindu Budha dan Prabu Siliwangi dari Pajajaran, yang beragama Hindu. Kalau itu terjadi, Gajah Mada takut aliansi politik militer itu akan mengucilkan masyarakat santri di Majapahit.
Ketika Hayam Wuruk marah, Mahapatih Gajah Mada melarikan diri melalui kawasan Banten Selatan dan naik perahu dari Balaraja ke Krui di Lampung Barat sekarang. Ketika kemudian ia menyadari, bahwa rencana perkawinan tersebut tidak mengandung kemungkinan munculnya aliansi Majapahit-Pajajaran, maka ia pun mengirimkan pesan kepada Hayam Wuruk bahwa motifnya melakukan hal itu, adalah karena takut timbulnya aliansi tersebut.
Hayam Wuruk mengirimkan pesan, bahwa ia menginginkan Gajah Mada datang sendiri menghadap ke Kraton di Majapahit, guna menyampaikan hal itu. Sesampai di Majapahit (di kawasan dekat Jombang sekarang) selama berbulan-bulan, Sebelum ia dapat menghadap Hayam Wuruk, ia pun meninggal dunia karena sakit.
Dari gambaran di atas, bahwa baik Gajah Mada maupun Hayam Wuruk ingin menghindari aliansi-aliansi politik dan militer antara Majapahit dan lain-lainnya. Ini karena sudah sejak seabad sebelum itu, hutang perang (war loan) Majapahit sudah membengkak, menjadi tanggungan Majapahit yang sangat berat.
Di samping itu, apabila aliansi politik militer itu berlangsung maka kandaslah apa yang dicita-citakan Mpu Tantular sejak dua abad sebelumnya, yaitu terkenal dengan adagium Bhinneka Tunggal Ika (berbeda-beda, namun tetap satu jua). Adagium inilah yang kemudian oleh Bung Karno diberi nama Pancasila pada tahun 1945.
Dalam kerangka dialogis agama Islam dan kebangsaan itu lah tokoh-tokoh eksponennya, seperti H.O.S Tjokroaminoto, KH. M. Hasjim Asy’ari, Bung Karno dan Djojosugito bergerak dan berkiprah. Perjuangan ini berujung pada Muktamar NU ke-9 di Banjarmasin pada tahun 1935, yang memutuskan NU tidak akan mendirikan negara Islam. Kalau hal ini kita lupakan sekarang dan kita mengikuti ‘garis perjuangan’ Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), PKS (Partai Keadilan Sejahtera) atau Front Pembela Islam (FPI) yang ingin mendirikan negara Islam, maka kita akan menyalahi keputusan Muktamar tersebut.
Maukah mayoritas bangsa ini menjaga dialog Islam dan kebangsaan itu? Sebelum kita dapat melakukan hal itu, sebaiknya kita tetap pada keputusan Muktamar di atas saja, bukan?
Sindo, Jakarta, 18 Januari 2008
______

poin dari Gus Dur yang penting adalah soal hubungan agama dan kebangsaan-multikultur dalam sejarah Indonesia begitu lekat menyatu, baik dari segi rumusan ajaran maupun gerakan. Ini jelas berbeda dengan wacana nasionalisme yang tumbuh di barat, yang saling bertentangan dengan agama dan multikultur. Di barat, nasionalisme berwatak ateis dan sektarian, sementara di Indonesia, nasionalisme berwatak religius dan multikultur." 

SYARIAT ISLAM TIDAK PERLU DIFORMALKAN

Foto: SYARIAT ISLAM TIDAK PERLU DIFORMALKAN

Jihad saat ini bukan dengan mengangkat pedang atau senapan. Jihad di jaman ini adalah jihad ekonomi, pedang ekonomi dan pendidikan. Musuh utama kita adalah kemiskinan, kebodohan, fanatisme dan lemahnya keyakinan, bukan ‘nonMuslim’. Dan itu semua menjadi sebab tumbuh terorisme.

Ayat-ayat tentang qital (perang) seluruhnya bersifat depensif; mempertahankan diri baik dari serangan nyata baik potensi yang membahayakan. Tidak ada dalam sejarahnya Rasulullah Saw. membunuh nonMuslim apalagi Muslim. Rasul menjaga hak hidup bangsa-bangsa, nonMuslim sekalipun.

Yang menjadikan 1 orang/kelompok/komunitas/bangsa sah diperangi bukan karena ia nonMuslim melainkan ‘al-harabah/harbi’; melakukan penyerangan. Dalam Piagam Madinah Rasulullah Saw. menjamin kebebasan beragama antara Muslim, Yahudi dan keyakinan lainnya. Dengan komitmen yang sama.

Kita juga perlu melihat sejarah, formalisasi syariat dalam sebuah negara, apapun namanya tidak efektif dalam transformasi agama dalam masyarakat. Bandingkan proses Islamisasi di Andalusia dan Indonesia. Islamisasi di Andalusia dengan formal kekuasaan, Indonesia melalui kebudayaan.

Indonesia dijajah sejak tahun 1500 oleh Portugis, Belanda dan Jepang, penduduk Muslim 99%. Dan Anda lihat bagaimana fakta di Andalus! Andalusia yang mempunyai ulama kaliber Ibn Malik, Ibn Rusydi dll, luluh lantah. Masih mau memformalkan syariat Islam?

Tidak ada Negara Muslim yang bebas melakukan praktik keagamaan sebaik Indonesia, HTI bebas berteriak, NU, Muhammadiyah, dll berdampingan. Negara Islam itu ilusi, bagaimana mungkin menghilangkan batas-batas teritorial dan menggantinya dengan khilafah. Perebutan 1 pulau saja berpuluh-puluh tahun.

Persoalan semacam ini yang membuat banyak negara Islam sangat tertinggal dalam segala aspek. Pemimpinnya sibuk mengurusi muslim-muslim radikal. Energinya habis untk melawan bangsa sendiri; terorisme, radikalisme, fanatisme dan perang saudara antara Sunni-Syi’ah. Kapan membangun?

Umat Islam bebas melakukan aktifitas keagamaan, UUD menjamin dan negara melindungi. Jika ada yang kurang mari kita perbaiki bertahap. Jangan beri kesempatan sekecil apapun perpecahan, jaga NKRI. Satu kali mereka tumbuh, maka kita menambah ‘daftar’: Afganistan, Irak, Syiria, Mesir.

Perbedaan itu dinamika, pedang, senapan dan bom bukan penyelesaian. Negara ini sesuai dengan syariat, cukup, dan tidak perlu diformalkan. Al-Quran mengajarkan toleransi: “Janganlah kalian memaki sesembahan yang mereka sembah...” (QS. al-An’am ayat 108). Ini untuk nonMuslim, bagaimana dengan Muslim?

Mari rekatkan persaudaraan dan persatuan. Rajut keutuhan NKRI. Hormati pemimpin, aparat, TNI-POLRI dan pemerintah, rawat kebinekaan. Kita jaga negara tercinta ini. NKRI harga mati, NKRI harga mati, NKRI harga mati, NKRI harga mati. Teriakkan itu dimanapun/kapanpun. Bersama kita menyongsong hari yang lebih baik. Dengan kebersamaan kita akan selalu optimis. Sekali lagi NKRI harga mati.

Sumber: Kultweet Habib Luthfi bin Yahya, Rais ‘Am Jam’iyyah Ahl Thariqah Mu’tabarah an-Nahdhiyah (JATMAN): @HabibluthfiYahy 4 Agustus 2014.

http://www.muslimedianews.com/2014/08/menurut-habib-luthfi-syariat-islam.html
http://pustakamuhibbin.blogspot.com/2014/08/syariat-islam-tidak-perlu-diformalkan.html
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=302987333216897
Jihad saat ini bukan dengan mengangkat pedang atau senapan. Jihad di jaman ini adalah jihad ekonomi, pedang ekonomi dan pendidikan. Musuh utama kita adalah kemiskinan, kebodohan, fanatisme dan lemahnya keyakinan, bukan ‘nonMuslim’. Dan itu semua menjadi sebab tumbuh terorisme.

Ayat-ayat tentang qital (perang) seluruhnya bersifat depensif; mempertahankan diri baik dari serangan nyata baik potensi yang membahayakan. Tidak ada dalam sejarahnya Rasulullah Saw. membunuh nonMuslim apalagi Muslim. Rasul menjaga hak hidup bangsa-bangsa, nonMuslim sekalipun.

Yang menjadikan 1 orang/kelompok/komunitas/bangsa sah diperangi bukan karena ia nonMuslim melainkan ‘al-harabah/harbi’; melakukan penyerangan. Dalam Piagam Madinah Rasulullah Saw. menjamin kebebasan beragama antara Muslim, Yahudi dan keyakinan lainnya. Dengan komitmen yang sama.

Kita juga perlu melihat sejarah, formalisasi syariat dalam sebuah negara, apapun namanya tidak efektif dalam transformasi agama dalam masyarakat. Bandingkan proses Islamisasi di Andalusia dan Indonesia. Islamisasi di Andalusia dengan formal kekuasaan, Indonesia melalui kebudayaan.

Indonesia dijajah sejak tahun 1500 oleh Portugis, Belanda dan Jepang, penduduk Muslim 99%. Dan Anda lihat bagaimana fakta di Andalus! Andalusia yang mempunyai ulama kaliber Ibn Malik, Ibn Rusydi dll, luluh lantah. Masih mau memformalkan syariat Islam?

Tidak ada Negara Muslim yang bebas melakukan praktik keagamaan sebaik Indonesia, HTI bebas berteriak, NU, Muhammadiyah, dll berdampingan. Negara Islam itu ilusi, bagaimana mungkin menghilangkan batas-batas teritorial dan menggantinya dengan khilafah. Perebutan 1 pulau saja berpuluh-puluh tahun.

Persoalan semacam ini yang membuat banyak negara Islam sangat tertinggal dalam segala aspek. Pemimpinnya sibuk mengurusi muslim-muslim radikal. Energinya habis untk melawan bangsa sendiri; terorisme, radikalisme, fanatisme dan perang saudara antara Sunni-Syi’ah. Kapan membangun?

Umat Islam bebas melakukan aktifitas keagamaan, UUD menjamin dan negara melindungi. Jika ada yang kurang mari kita perbaiki bertahap. Jangan beri kesempatan sekecil apapun perpecahan, jaga NKRI. Satu kali mereka tumbuh, maka kita menambah ‘daftar’: Afganistan, Irak, Syiria, Mesir.

Perbedaan itu dinamika, pedang, senapan dan bom bukan penyelesaian. Negara ini sesuai dengan syariat, cukup, dan tidak perlu diformalkan. Al-Quran mengajarkan toleransi: “Janganlah kalian memaki sesembahan yang mereka sembah...” (QS. al-An’am ayat 108). Ini untuk nonMuslim, bagaimana dengan Muslim?

Mari rekatkan persaudaraan dan persatuan. Rajut keutuhan NKRI. Hormati pemimpin, aparat, TNI-POLRI dan pemerintah, rawat kebinekaan. Kita jaga negara tercinta ini. NKRI harga mati, NKRI harga mati, NKRI harga mati, NKRI harga mati. Teriakkan itu dimanapun/kapanpun. Bersama kita menyongsong hari yang lebih baik. Dengan kebersamaan kita akan selalu optimis. Sekali lagi NKRI harga mati.

Sumber: Kultweet Habib Luthfi bin Yahya, Rais ‘Am Jam’iyyah Ahl Thariqah Mu’tabarah an-Nahdhiyah (JATMAN): @HabibluthfiYahy 4 Agustus 2014.

http://www.muslimedianews.com/2014/08/menurut-habib-luthfi-syariat-islam.html
http://pustakamuhibbin.blogspot.com/2014/08/syariat-islam-tidak-perlu-diformalkan.html
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=302987333216897
— bersama Setya Budiarta dan 50 lainnya.

Kisah Nabi Khidir dan Nabi Ilyas



Kitab Al-Asror Rabbaniyyah wal Fuyudhatur RahmaniyyahDi dalam kitab "Al-Asror Rabbaniyyah wal Fuyudhatur Rahmaniyyah" karya Syeikh Ahmad Shawi Al-Maliki halaman 5 diterangkan yang artinya sebagai berikut:
Telah berkata guru dari guru-guru kami, Sayyid Mushtofa Al-Bakri: Telah berkata Al-'Ala'i di dalam kitab tafsirnya bahwa sesungguhnya Nabi Khidir dan Nabi Ilyas as hidup kekal sampai hari kiamat. Nabi Khidir as berkeliling di sekitar lautan sambil memberi petunjuk kepada orang-orang yang tersesat di lautan.
Sedangkan, Nabi Ilyas berkeliling di sekitar gunung-gunung sambil memberi petunjuk kepada orang-orang yang tersesat di gunung-gunung. Inilah kebiasaan mereka di waktu siang hari. Sedangkan di waktu malam hari mereka berkumpul di bukit Ya'juj wa Ma'luj (يأجوج و مأجوج) sambil mereka menjaganya.
Dan diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra bahwa Nabi Khidir dan Nabi Ilyas berjumpa pada tiap-tiap tahun di Mina (Saudi Arabia). Mereka saling mencukur rambutnya secara bergantian. Kemudian mereka berpisah dengan mengucapkan kalimat:
بسم الله ما شاء الله لا يسوق الخير الا الله
بسم الله ما شاء الله لا يصرف السو ء الا الله
بسم الله ما شاء الله ما كان من نعمة فمن الله
بسم الله ما شاء الله لا حول و لا قوة الا بالله
Maka barangsiapa mengucapkan kalimat-kalimat ini pada waktu pagi dan sore hari, maka ia akan aman dari tenggelam, kebakaran, pencurian, syaitan, sultan, ular, dan kalajengking.
Dan telah dikeluarkan oleh Ibnu 'Asakir bahwa sesungguhnya Nabi Khidir dan Nabi Ilyas itu berpuasa Ramadhan di Baitul Maqdis (Palestina) dan mereka melakukan ibadah haji pada tiap-tiap tahun. Mereka minum air zamzam dengan sekali tegukan, yang mencukupkan mereka seperti minuman dari Kabil.
Sebagian ulama menceritakan bahwa sesungguhnya Nabi Khidir itu putera Nabi Adam as yang diciptakan dari tulang iganya. Menurut segelintir kecil ulama lagi beliau putera Halqiya. Ada yang mengatakan putera Kabil bin Adam. Adapula yang mengatakan beliau itu cucunya Nabi Harun as, yaitu putera bibinya Iskandar Dzul Qarnain. Dan Perdana Menterinya benar-benar aneh mengatakan bahwa Nabi Khidir itu dari golongan malaikat.
Sedangkan, menurut pendapat ulama yang paling shohih adalah bahwa Khidir itu adalah seorang Nabi. Menurut ulama jumhur beliau itu masih hidup dan beliau tidak akan pernah meninggal terkecuali pada hari kiamat apabila Al-Qur'an telah diangkat dan Dajjal telah membunuhnya. Kemudian, Allah menghidupkannya kembali. Sesungguhnya, beliau itu masa hidupnya panjang sekali. Karena, beliau meminum air kehidupan.
 
 
Sumber : DR KH Thobary Syadzily, MKub

Simak di: http://www.sarkub.com/2013/kisah-nabi-khidir-dan-nabi-ilyas/#ixzz3AEoXm7vi
Powered by Menyansoft
Follow us: @T_sarkubiyah on Twitter | Sarkub.Center on Facebook

Mas JOKO KUWI ,TEGAS.."

Dolkecut : Yai...Mas Jokowi untuk saat ini kan masih menjadi Gubernur Jakarta ya..."?. Kok beda sama dulu ya...". Beliau ngatasin pedagang kaki lima. Dulu kan di media dya keliat sukses. Bisa ajak ngobrol, terus diajak makan sambil dialog. Terus bisa dipindah dah dengan tanpa paksaan. "La sekarang kok beda itu di TIPI2. Satpol PP pasang gaya Garang". Pastinya itukan atas instruksi atasannya..." ngih to Yai...
Kyai Jarkoni : Yaa...karna yg model blusukan' yg model ndeso sekarang dinilai udah ngak Relevan Cutt..."
Sekarang pasang opini Bahwa JOKO kuwi Tegas. Karna memimpin sekala Negara bukan Daerah/ Kota Lagi.
Dolkecut : Ooo.... Yg dlu itu bener Pencitraan to Yaii.?....
Kyai Jarkoni : Pencitraan ora pencitraan Dudu urusanku.
Jo meneh Jokowi. Semua orang Kamu Sendiri Cutt....". Punya potensi Pencitraan Kok bukan sama sapa2. Sama Tuhanmu sendiri kamu masih Pencitraa..
Dolkecut : pencitraan gmn Kyai...?
Kyai : kamu liat sendiri.." baju yg melekat ditubuhmu. Kowe ngowo gamis. Katok cingkrang...". Batuk'e bolong. Itu biat maksutmu lebih Isliiim ngunu Po...". Tak tekok. Kowe wingi Romadhon Poso Tutuk ora?...
Dolkecut : eeehhmm......". Krn beberapa hal ndak Kyai. $+**$--#%. hehe...
Mendingan saya Yai " drpada njengan .Kyai Kok Pake Jin, Katok cekak'an.
(Dolkecut mbales).
KyaiJarkoni: ini dlm wilayah agar saya tidak dinilai pencitraan sama Tuhan ( APOLOGI hehe).

NU terbagi menjadi TIGA , Katanya?........

Dolkecut : Tu Yai..." njengan tau ngak.." NU yg njenengan gandrungi" udah terbagi menjadi 3 sekarang..."ada NU Liberal dgn JILnya. Ada NU politik dgn Muhaimin sbg Icon'nya, ada NU tadisional dgn tradisi santri dan Khitohnya. Njenengan ngertos mboten..". Liat Youtube Yai..." biar tau njengan. Ulil Absor tdk bisa berkutik dihakimi disitu. Kang Said juga mendapat protes keras dr kaum santri atas beberapa stetmennya.
Kyai Jarkoni : Rumangsamu aku Gaptek po piye kowe Cuttt....". Sing mbok karepno kowe aku ngerti..." saya paham...!!! Itu pas forum Tabayuun Kyai-Kyai Muda NU jawatimur yg dipimpin Kyai Ali Mashuri sahabat saya.
Dolkecut : Terus pripun kyai tangapane njenengan...". ?....
Njengan pilih NU yg mana?...
Kyai Jarkoni : kowe...". Ijeh oramutu to Cuttt...." kok ijeh ora pinter2 to.
Tak kei wilangan kowe...". Jangankan Liberal. Politik atau Tradisional. Kowe kudu dadi wong NU sing "Radikal" disaat kowe kudu Radikal...!!!
Dolkecut : Lohh....." Kok ngonten Yai..." Keblinger panjenengan Kyai...!!"
Kyai Jarkoni : Nek sakumpomo Bojomu "Nonggo" bar mahrib ora bali. Terus opo sing mbok kowe lakoni maring bojomu?"......
Dolkecut : Aku akan paksa Istri saya Kyai...." agar mau pulang untuk sholat jamaah sama saya.
Kyai Jarkoni : Yg kamu lakukan itu sikap "Radikal" terhadap istrimu. Dan kamu benar untuk hal itu.
"Semua dalam porsinya masing-masing Cut..." Paham to kowe..!!!".
Dolkecut : Termasuk njenengan Berpakaian pake Surban dan Gamis seperti sekarang Yai?".... Kmaren njengan nkritik. Skrng kok palah pakaian seperti itu.
Kyai Jarkoni : Ooowalah Cuuuttt...."Kok durung Jembar pikiranmu..."yg saya omongne itu bukan masalah bajunya' Cobalah berfikir Yg Liberal' tapi yg kontributif. Makannya...". Kalo dngar orang ngomong itu jgn langsung kamu telan. Tapi juga kamu kunyah dulu, dlm teori kesehatanpun musti 20 x kunyah agar pencernaanmu sehat. Aku berpakaian seperti ini karna ada laku Tariqoh" yg memang dlm berpakaian seperti ini mengantarkanku pada wilayah kenyamanan hati tertentu, bukan pada pencitraan..." paham Koee..
Dolkecut : &#++#*$++#*-+....
Mboten paham ning malah tambah Ngelih' Kyai..." pripun enten Sego Bungkus Kyai..hehehe....

ISIS mengemuka di endonesa.


Dolkecut : Kyai.....". kayanya bener njenengan Kyai...". ISIS udah mulai secara terang-terangan unjuk gigi dgn atribut2nya. Apa kedepannya memang akan ada bentrokan seperti yg panjenengan gambarkan di negara2 timur sana kyai. Apa benar ini ada kaitannya dgn politik kekalahan salah satu kubu Pilpres ". secara kan. yg cenderung kesama". mendukung mereka yg kalah dlm Pilpres?"...
Kyai Jarkoni : Saya ngak berani berspekulasi Cuut...". yg jelas. ketegangan yg mencoba dibentuk ini Berstruktur..". dan ini skala Dunia".
Dolkecut : Binggung saya Kyai....". penjelasan Panjengan selalu ngambang" ora cethoo...!!!!
Kyai Jarkoni : Rumangsamu aku Sopo...!!! aku dudu komentator Cuutt...". Mau ISIS atawa apapun gerakannya. kalo masih sebatas wacana" monggo...!!!" do diwaspadai Dewe-dewe. Tapi kalo sudah menghawatirkan dlm bentuk instruktif Gerakan...". mereka para Habaib - Kyai - Jawara- Jawara Jawa tidak akan tiggal diam.
kita semua sudah Jogo-jogo Cuutt...".
Nanti kalo sudah pada waktunya. : akan ada pasukan Berani Mati. yg semuanya Ber"blangkon". seruanya Satu. Lindungi Kyai...". Rakyat.."NU dan NKRI.
Dolkecut : Wahhh....."ampun meden-medeni ngonten Kyai...'.
Kyai Jarkoni : Iki ora Guyon Cuttt...". koe ngeti to . sakwene mujahadah sing di fokusne Opo..". slamete Nuswantoro iki. Endonesa. Dongo wae mugo-mugo kejadian parah sing diramalake" ora bakal kedaden.
Dolkecut : Amiin.....Amiin. Yai...Amin.
Kyai Jarkoni : Piyee...Kowe daftar dadi relawan yo...".
Dolkecut : Wahh...Mboten Yai...". kulo Bagian ngenehne "Sogo Bungkus" Mawon njeng nek oancen bener2 kedaden hehehehe...