div id='fb-root'/>

Minggu, 06 Desember 2015

Mengasah Kepekaan Rasa dengan Syair

Suatu hari Rasulullah menjahit terompahnya sedangkan istrinya, ‘Aisyah, berada di dekatnya untuk memintal benang. Ketika itulah sang istri memandanginya. Dari kening beliau bercucur keringat yang ketika terkena sinar mentari tampak begitu indah, bagai mutiara yang menetes. Hal ini membuat ‘Aisyah terpesona dan tersipu malu.


Melihat gelagat aneh istrinya, Rasulullah menegur,

“Wahai ‘Aisyah, mengapa kau tampak bingung begitu?” demikian tanya beliau membuat ‘Aisyah semakin bingung.

“Wahai Rasulullah,” sahut ‘Aisyah, “Sejak tadi aku mencuri pandang terhadapmu. Dari keningmu menetes keringat bagai mutiara yang begitu indah. Kalau saja Abu Kabir al-Hudzaili (seorang penyair ulung) melihat sendiri keindahan ini, tentu ia akan menggubah syair untukmu,”

Kesalahan' Rasulullah

Kita harus dengan baik belajar bertatakrama kepada para Nabi jika ingin benar dan tepat dalam menjalankan syariat. Sebab, ketidakadaan tatakrama kepada Nabi efeknya sangat tidak baik tak hanya pada seorang muslim, namun manusia secara umum


Awy A. Qolawun – Masyru’ Al-Maliki Makkah
Apakah Rasulullah pernah melakukan kesalahan? Jika dijawab "tidak", maka ada yang memberi negasi bahwa Nabi pernah melakukan "kesalahan" dengan argumen QS. 80. Lalu mana yang benar? Nabi Muhammad (juga para Nabi yang lain) pernah melakukan kesalahan atau tidak? Lalu bagaimana taujih atas QS. 80 itu? Apa maksud dalam Surat ‘Abasa yang mengisahkan teguran Allah atas Rasulullah yang mengabaikan dan bermuka masam terhadap seorang lelaki buta?

Sebelum menjawab pertanyaan ini, sebelumnya kita harus memosisikan Rasulullah sebagai panutan (qudwah), bukan sebagai ukuran persamaan (qiyas). Sebab, menjadikan Rasulullah sebagai ukuran persamaan, analogi, qiyas adalah kesalahan pemikiran cukup fatal yang menyeret banyak hal negatif. Semisal ada yang berkomentar soal menikahi anak di bawah umur, atau perihal poligami, lalu untuk melegalkan perbuatannya itu dan membawa-bawa nama Nabi.

Atau semisal ada soal dalam amaliah (ini biasanya dipakai tukang penuduh bid'ah dalam menyalahkan) dengan mengatakan kepada yang dianggap berbid'ah; "Apa kamu merasa lebih baik dari Nabi sehingga membuat amalan baru?" Kalimat ini hanya muncul dari orang yang salah memposisikan Nabi, sebagai miqyas. Karena seawam-awamnya orang Islam, tidak akan terlintas di benaknya bahwa dia merasa lebih baik dari Nabi. Orang yang menembak muslim lain dengan statemen tadi, acapkali dalam cara berpikirnya (tanpa ia sadari) menjadikan Nabi sebagai analogi. Padahal memposisikan Nabi sebagai ukuran persamaan dengan dirinya dan perilakunya adalah puncak kekurangajaran, muntaha su-ul adab.

Contoh sederhana sekali, semisal dia menikah umur 25 lalu mengatakan bahwa Nabi juga menikah umur 25. Ia menyamakan, bukan mengikuti. Ketika mengatakan itu, apa dia tidak sadar umurnya yang 25 ini sudah dapat apa, sementara Nabi saat usia 25 itu sudah seperti apa.

Atau semisal (ini yang sering dipropagandakan) perihal pendirian sistem pemerintahan Islam, tanpa melihat apa yang dilakukan Nabi sebelumnya. Karena kita, setakwa apapun, sepandai apapun, tak akan pernah bisa menyetarakan diri dengan para Nabi, mereka adalah qudwah, panutan kita. Di Qur'an dikatakan "laqod kana lakum fi Rosulillahi uswah" (panutan) bukan "laqod kana lakum fi Rosulillah miqyas" (ukuran persamaan).

Termasuk contoh efek negatif dari menyetarakan diri dengan Nabi adalah malah membawa umat ini mundur ke belakang. Segala hal harus sama dengan zaman Nabi. Akhirnya malah yang terlintas di benak kita adalah zaman yang gersang dan kuno sekali. Itupun praktek perilaku yang dipakai bukan perilaku yang dicontohkan Nabi, tapi perilaku sebagian Arab yang masih jahiliah saat itu, kaku. Dan tentu saja (membawa ummat ke belakang) adalah malah contoh nyata dari bid'ah. Sebab Nabi tidak mengajarkan hal itu.


Nah, jika kita bisa dengan baik menjadikan Nabi sebagai qudwah, maka justru kita akan semakin maju sekaligus bertakwa dengan benar. Dan itu dipraktekkan dengan baik oleh para salaf shaleh sehingga Islam mencapai puncak keemasan dalam segala hal. Sebab seluruh ajaran para Nabi adalah mendorong umatnya untuk maju dan tidak berpikiran kaku. Satu-satunya jalan untuk itu adalah dengan menjadikan Nabi sebagai qudwah (panutan), bukan sebagai miqyas (ukuran persamaan).

Kembali ke persoalan apakah Rasulullah berbuat kesalahan atau tidak. Kita memang tidak bisa begitu saja menyalahkan orang awam yang berpikir bahwa Rasulullah (juga Nabi yang lain) pernah berbuat salah. Tapi kita bisa mengarahkan mereka agar tidak terus berpikiran bahwa para Nabi-pun jg melakukan kesalahan. Dan ini adalah ranah Ihsan atau dzauq (kepekaan bertatakrama), khususnya kepada para Nabi, kelompok manusia terbaik pengajar dan penuntun kehidupan semesta.

Jika kita pernah belajar Aqidatul Awwam di masa kecil kita, ada 3 bait yang menjelaskan ekselensi-ekselensi khusus para Nabi. Dan bait ketiga adalah ekselensi ‘ishmah, yakni terjaganya para Nabi dari dosa dan kesalahan sejak mereka belum resmi diangkat sebgai Nabi. Ishmah-nya para Nabi ini adalah ideologi paling dasar dari Ahlus Sunnah wal Jamaah. Berpikiran Nabi tidak ma'shum bisa bahaya pada keimanan.

Lantas bagaimana arahan perihal peristiwa-peristiwa yang secara lahiriah seolah para Nabi itu berbuat "kesalahan"? Semisal kisah melanggarnya Nabi Adam dengan makan buah larangan, kaburnya Nabi Yunus dari kepentingan dakwah, komplainnya Nabi Nuh soal anaknya yang terbawa banjir raksasa, sikap Nabi Musa sampai disuruh berguru kehidupan lagi pada seseorang, atau kisah di QS. 80 soal Nabi kita yang sempat merasa terganggu dengan kehadiran seorang tuna netra saat beliau sedang mengajak tokoh Quraisy memeluk Islam, atau Nabi Daud yang berpikiran ingin menikahi wanita yang ternyata telah jadi istri orang, atau Nabi Ibrahim yang mengaku sakit padahal tidak?

Tentu saja para Nabi itu mendapat "teguran" langsung dari Allah. Nah apa arahan bagi kita melihat semua fakta dalam al-Qur'an itu? Sebelumnya, ada dua hal yang harus kita pahami dengan baik terlebih dahulu menyikapi "kesalahan" para Nabi ini.

Pertama; jangan pernah sekalipun menyamakan "kesalahan" mereka seperti kesalahan-kesalahan naif yang kerap kita perbuat. Kedua, kita harus tahu bahwa para Nabi ini pendidikan, tarbiyah dan penjagaannya langsung di Tangan Allah. Dan kita juga harus tahu tugas utama para Nabi, yaitu mengajarkan umat manusia bagaimana menempuh kehidupan ini. Dan tentu saja, salah satunya adalah bagaimana cara bersikap jika melakukan kesalahan. Dari sini kita harus melihat bahwa "kesalahan-kesalahan" yang dilakukan para Nabi itu adalah sejenis adegan, maka tentu ketidaktepatan saat seseorang melihat pada titik "kesalahan"-nya.

Sebab, fokus dan pesan yang disampaikan Allah melalui para Rosulnya itu adalah bagaimana yang harus dilakukan jika mengalami kesalahan. Artinya, pada hakikatnya para Nabi itu tidak melakukan kesalahan, namun diadegankan melakukan kesalahan untuk memberikan pelajaran.

Bukti lain dari itu adalah pada suatu waktu Rasulullah shalat Ashar hanya dua rakaat saja. Tentu saja para Sahabat bertanya-tanya. Apa Rasul lupa? Atau salah? Atau syariat baru? Dan saat ada yang tanya, Rasul langsung menjawab; tidak salah juga tidak lupa, “Wa innama unassa li usyarri', bahwa aku dibuat lupa/dibuat salah untuk mensyariatkan ajaran baru lagi.” Itu yang dikatakan Nabi dalam hadits sebab musabab disyariatkan sujud sahwi dalam sholat kala lalai/melakukan kesalahan dalam rukun.

Pada akhirnya, kita harus dengan baik belajar bertatakrama kepada para Nabi jika ingin benar dan tepat dalam menjalankan syariat. Sebab, ketidakadaan tatakrama kepada Nabi efeknya sangat tidak baik tak hanya pada seorang muslim, namun manusia secara umum. Karena para Nabi dan Rasul (yang jumlahnya 124.000 itu) adalah kelompok manusia terbaik pilihan Allah yang terjaga dari salah dan dosa.

Semoga mencerahkan, menambah ilmu dan tahu bagaimana bertatakrama pada para Nabi, khususnya Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam. [Zq]

*Sumber: Chirpstory @awyyyyy

Di ambi dari. santrijagad.org
 
d

Salah kaprah dalam Meluruskan Shof Sholat


Bukan hal yang aneh kalau sebelum shalat, pak imam mengingatkan para jamaah sambil memeriksa barisan, ”Mohon shafnya dirapat dan diluruskan”.
Tapi pernahkan berdiri di samping Anda jamaah yang suka memepet-mepetkan kakinya ke kaki Anda? Bahkan hampir menginjak anda atau kaki jamaah lain?
Kalau Anda pernah mengalaminya, dan agak merasa risih, terus terang Penulis juga pernah mengalaminya. Dan ternyata tidak sedikit mereka yang mengalami dipepet-pepet seperti itu.
Sampai ada seorang jamaah di satu masjid curhat kepada penulis,”Pokoknya saya tidak mau shalat di samping dia!”, katanya. ”Kenapa?” tanya Penulis. ”Kakinya itu lho, masak saya dipepet-pepet terus sampai mau diinjak. Shalat saya malah jadi tidak khusyu’.”
Beberapa hari yang lalu, Penulis ditanya seseorang tentang hadits keharusan saling menempelnya mata kaki, sebagai bentuk kesempurnaan shaf. Katanya haditsnya shahih diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab Shahihnya. Dan ternyata memang hadits inilah yang disinyalir menjadi pijakan teman-teman yang beranggapan bahwa kaki harus benar-benar nempel dengan kaki jamaah lain.
Masalah ini mari kita bahas dengan kepala dingin, dengan merujuk ke kitab-kitab para ulama yang muktamad. Mari kita telusuri dan dengan seksama apa komentar para ulama dalam hal ini.

Jumat, 20 November 2015

Laskar FPI: Gus Dur Itu Sesat, Murid Sayid Alwi AlMaliki: Gus Dur Tidak Sesat, Allah Yarhamuh


Laskar FPI: Gus Dur Itu Sesat, Murid Sayid Alawi AlMaliki: Gus Dur Tidak Sesat
Padhang-mbulan.org ~ Seorang laskar Front Pembela Islam (FPI) asal Madura bernama Saifuddin Surur mengunggah sebuah foto Abuya al-Maliki yang menggandeng tangan Gus Dur dan KH. Said Aqil Siraj dengan membubuhi keterangan berikut ini:

Laskar FPI: Gus Dur Itu Sesat, Murid Sayid Alawi AlMaliki: Gus Dur Tidak Sesat
"Foto ini adalah kampanye yang sengaja disebarkan oleh kelompok liberal, supaya ada kesan dan penilaian dari publik bahwa pemikiran guru besar kita Abuya Sayyid Muhammad Alawy Al-maliky sama dengan pemikirin kedua orang ini yang ada di sampingnya. Setidak-tidaknya supaya ada opini bahwa Abuya tidak mempermasalahkan pemikiran orang-orang ini. Saya katakan: Demi Alloh tidak! sekali lagi TIDAK! Pemikiran Abuya sangat bertolak belakang dengan pemikiran orang-orang ini dan Abuya sangat ingkar terhadap pemikiran orang ini."

Selasa, 13 Oktober 2015

TLIKUNGAN IBLIS " muara Trah para Nabi dan Dewa"

Keturunan Nabi Adam yang diangkat menjadi nabi hanya satu; Nabi Syits (Set, dalam bahasa Ibrani; Sang Hyang Esis, dalam bahasa Jawa). Syith merupakan keturunan Adam yang lahir tunggal (semua anak Adam dilahirkan kembar) diturunkan Yang Mahaesa sebagai pengganti anak Adam yang terbunuh. Rupa Syith sangat mirip dengan rupa Adam dan menjadi satu-satunya manusia yang memiliki kebijaksanaan terhebat sepanjang masa.
Begitu mengasihinya Adam meminta pada Yang Maha Esa supaya kelak keturunan Syits diizinkan menjadi penguasa atas keturunan saudara-saudaranya. Saat berdoa, Malaikat Ngajajil/Azazil (Iblis) ternyata mencuri dengar. Ngajazil paham, bila doa Adam akan selalu didengar dan dikabulkan Yang Maha Esa. Seketika itu pula, tumbuh keinginan Ngajazil untuk mencampurkan darah keturunannya dengan darah keturunan Syits.

BANI JAWI

Saudaraku di seluruh Nusantara . . . . Seandainya seluruh penduduk dunia ini disuruh tinggal di bumi Nusantara ini maka mereka akan “betah” dan merasa tidak asing, mengapa ?
jawabnya ya karena sebetulnya Indonesia terutama tanah jawa ini merupakan ‘MOTHER HOME” city untuk seluruh ummatnya Nabi Adam AS.
Kalaupun ada yang mengklaim bahwasanya Bani Israel itu adanya hanya di negeri Arab, itu juga tidak salah, karena nenek moyang kita juga menyebar kesana.
Tapi kalau kita minder dan merasa sebagai bangsa yang terbelakang maka jawabannya nanti dulu…
Karena kitalah sesungguhnya RAS PALING UNGGUL diseluruh dunia ini.
Kadang dengan kecerdasan kita yang MasyaAllah menjadikan kita saling menyalahkan satu dengan yang lainnya. Saling beradu mulut, adu gengsi, dan seterusnya.
Dan tidak akan diketemukan dinegeri manapun dimuka bumi ini kecuali Indonesia.
Itulah ciri negeri para FILSAFAT yang “ADA” dan “BERADA” sebelum negeri-negeri “Teknologi” maupun negeri KEYAKINAN” saling bermunculan di bumi ini.
Di dalam Mitologi Jawa diceritakan bahwa salah satu leluhur Bangsa Sunda (Jawa) adalah Batara Brahma atau Sri Maharaja Sunda, yang bermukim di Gunung Mahera.
Selain itu, nama Batara Brahma, juga terdapat di dalam Silsilah Babad Tanah Jawi.
Di dalam Silsilah itu, bermula dari Nabi Adam yang berputera Nabi Syits, kemudian Nabi Syits menurunkan Sang Hyang Nur Cahya, yang menurunkan Sang Hyang Nur Rasa. Sang Hyang Nur Rasa kemudian menurunkan Sang Hyang Wenang, yang menurunkan Sang Hyang Tunggal.
Dan Sang Hyang Tunggal, kemudian menurunkan Batara Guru, yang menurunkan Batara Brahma. Berdasarkan pemahaman dari naskah-naskah kuno bangsa Jawa, Batara Brahma merupakan leluhur dari raja-raja di tanah Jawa.

Rabu, 07 Oktober 2015

KH.As’ad Syamsul Arifin pelaku sejarah berdirinya NU

KH.As’ad Syamsul Arifin adalah pelaku sejarah berdirinya NU, beliaulah yang menjadi media penghubung dari KH. Kholil Bangkalan yang memberi isyarat agar KH. Hasyim Asyari mendirikan Jam’iyah Ulama yang akhirnya bernama Nahdlatul Ulama. Pidato ini awalnya berbahasa Madura dan berikut adalah translit selengkapnya.
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Yang akan saya sampaikan pada Anda tidak bersifat nasehat atau pengarahan, tapi saya mau bercerita kepada Anda semua. ANDA suka mendengarkan cerita? (Hadirin menjawab: Ya).
Kalau suka saya mau bercerita. Begini saudara-saudara. Tentunya yang hadir ini kebanyakan warga NU, ya? Ya? (Hadirin menjawab: Ya).

Rabu, 23 September 2015

JAWA = JEWISH (YAHUDI) DAN BENANG MERAH DIANTARANYA

Sengaja saya melengkapi olah pikir dari KH. MH. Ainun Najib, Utusan Kaisar Tiongkok, KH. Fahmi Basya, kelompok penelitimuda Turangga Seta dan pendapat saya sendiri dalam hipotesa dibawah ini. “Anda tidak akan paham bila menemukanpeta Indonesia Raya dijadikan center display di sebuah web Israel dan AmerikaSerikat (www.us-israel.org). Juga agak miris melihat tanda warna merah padadaerah tertentu dari Nusantara” ujar Kyai (“mbelis”) MH. Ainun Najib. Di Belanda November 2008 saya ngobrol panjang dengan pemimpin Yahudi internasionalRabi Awraham Suttendorp yang sangat mengenal Indonesia lebih detail dari kebanyakan orang Indonesia sendiri, sebagaimana di kantor Perdana Menteri Israel Anda bisa dolan (“main”) ke sana dan melirik ruangan khusus yang berisi segala macam data tentang Indonesia segala bidang yang di-update setiap minggu. Israel juga punya situs berbahasa Indonesia. Kepada Rabi saya tanyakan kenapa disain tengah atas atau puncak mahkota keagamaan yang beliau pakai memimpinperibadatan di

Selasa, 01 September 2015

Nusantara dalam Rangkulan Islam

Nusantara adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan kepulauan Indonesia yang merentang di wilayah tropis dari Sumatra di bagian barat sampai Papua di bagian timur. Inilah wilayah yang tercirikan dengan keanekaragaman geografis, biologis, etnis, bahasa, dan budaya.
nusantara
Kata “nusantara” pertama kali muncul dalam susastra Jawa di abad ke 14 M, yang merujuk pada rangkaian pulau-pulau yang menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit.
Kata “nusantara” sendiri adalah kata benda majemuk yang berasal dari bahasa Jawa Kuna : nusa (pulau) dan antara (terletak di seberang). Dalam kitab “Negarakertagama” yang ditulis sekitar tahun 1365 M, Empu Prapanca – seorang penulis sekaligus pendeta Budhha – menggambarkan wilayah penyusun Nusantara, dengan memasukkan sebagian besar pulau-pulau dalam wilayah Indonesia modern (Sumatra, Jawa, Bali, Kepulauan Sunda Kecil, Kalimantan, Sulawesi, sebagian dari Maluku dan Papua Barat), ditambah wilayah lain yang cukup luas yang saat ini menjadi daerah kekuasaan Malaisya, Singapura, Brunei, dan bagian selatan Filipina. Pada 2010, menurut data Biro Pusat Statistik, wilayah Indonesia sekarang terdiri dari 1.340 kelompok etnik, dengan 2.500 bahasa dan dialek yang berbeda.