div id='fb-root'/>

Senin, 07 November 2016

KELAS MENULIS (3)

Kali ini, saya memberikan materi cara menulis cerita yang menarik. Saya sudah sering membaca tulisan Pak Gunarso, beliau memang pakar menulis cerita lucu-saru-ilmiyah dan piawai bermain istilah:
Silakan baca semoga menginspirasi:
MENGEKSEKUSI BIANG MASALAH
(dimuat di Pos Kota 11 Agustus 2013)

Aspirasi urusan bawah memang menjadi hak setiap anak bangsa, termasuk kalangan janda. Tapi gaya pacaran Ny. Sumi, 45, yang terlalu terbuka agaknya membuat sang anak, Kadir, 20, malu. Tak tahan ibunya dipergunjingkan warga, dia nekad mengeksekusi Takim, 48, kekasih ibu yang jadi biang masalah.
https://scontent-sin6-1.xx.fbcdn.net/v/t1.0-9/Tak ada satu pasalpun dalam KUHP yang melarang orang pacaran, sebab berkasih-kasihan dengan lawan jenisnya, sudah menjadi fitrah manusia. Tetapi meski dijamin undang-undang, sebagai manusia berbudaya haruslah melalui koridor-koridor agama dan etika. Jangan asal nyosor saja! Sebab meski umat manusia termasuk makhluk homo sapiens, tapi janganlah kelakuannya seperti sapi, asal main seruduk. Allah Swt pun menggariskan: “Dia menciptakan pasangan untukmu dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa cenderung tenteram kepadanya. (QS Rum: 21).
Indahnya kemesraan dalam perkawinan, sesungguhnya juga menjadi harapan Ny. Sumi yang menjanda sejak 5 tahun lalu. Tapi harapan tinggal harapan, sebab Takim kekasihnya ternyata masih punya istri. Sebetulnya bisa saja Sumi memberikan opsi: kalau pilih aku, ceraikan istrimu. Tapi sebagai perempuan, dia tak tega menyakiti kaumnya sendiri. Kalau begitu, kenapa tidak cari lelaki lain saja? “Aku sudah kadung mencintai dia….,” kata janda dari Desa Sendangharjo Kecamatan Ngasem Kabupaten Bojonegoro (Jatim) ini.
Karena ditimbang padha abote (sama berat) tersebut, Takim terus memacari janda Sumi secara diam-diam. Sebagai petani, dia pamit pada istri untuk mencangkul ke sawah, tapi prateknya malah mencangkul “sawah” janda Sumi di kampung sebelah. Lain hari lagi dia beralasan mau ngrabuk (menabur pupuk), tapi sebetulnya tengah memupuk cinta kasihnya bersama Sumi. Kalau pulangnya kemalaman, katanya mampir dulu ke rumah teman. Pendek kata, sejak punya selingkuhan Takim jadi gemar menciptakan kebohongan publik.
Anak Ny. Sumi, si Kadir, sebetulnya tak suka ibunya pacaran lagi. Katanya, sudah tua ini, mbok sudah momong dan membesarkan anak-anak saja. Kadir yang non Srimulat ini memang belum pernah berkeluarga, sehingga belum memahami seperti apa aspirasi urusan bawah sang ibu. Soal isi perut memang gampang diatasi, tapi masalah kebutuhan bawah perut? “Kowe cah cilik durung ngerti butuhe wong tuwa (kamu anak kecil belum tahu kebutuhan orangtua),” kata Sumi pernah memarahi Kadir.
Hari-hari selanjutnya makin seru saja Sumi – Takim menjalin cinta, sampai-sampai menjadi pergunjingan warga desa. Bila Kadir mendengar orang bergerombol membahas ibunya, hatinya sakit dan malu. Lantaran ibunya tak bisa diingatkan, dia mencoba memberi pengertian pada Takim, agar jangan menggangu ibunya. Ternyata Takim dan Sumi memang satu fraksi hanya beda komisi, sehingga jawabnya pun sama.Intinya, Takim terus akan memacari janda Sumi sepanjang dianya masih mau.
Seandainya Kadir ini seperti Kadir Srimulat, pasti dia akan menakut-nakuti Takim dengan kalimat: tak bunuh kamu! Tapi Kadir anak Sumi tak berani bertindak seperti itu, sebab pasal KUHP (pasal 285 jo pasal 64) menyebutkan, ancaman bunuh orang bisa kena sanski hukum. Karenanya, setiap melihat Takim bertandang ke rumahnya, dia hanya bisa menekuk wajah dan menendang pintu …..derrrrrr! Tapi dasar Takim sudah mati rasa, sikap perlawanan Kadir tak juga digubris.
Akibat warga terus memperolokkan ibunya, lama-lama Kadir jadi mata gelap. Dengan membawa pentungan dia menekan Takim untuk tidak memacari ibunya. Ee, lelaki beranak istri ini justru marah-marah. Langsung saja pentungan di tangan diayunkan berkali-kali, sehingga Takim langsung roboh mandi darah. Sementara Kadir diserahkan ke polisi, Takim dilarikan ke Puskesmas Ngasem. Tapi akibat begitu kuatnya Kadir menghajar kekasih ibunya, nyawa Takim tak tertolong lagi.
Yang satu masuk penjara, yang satu masuk liang kubur! (HS/Gunarso TS)

Posting Komentar