div id='fb-root'/>

Minggu, 28 Juli 2013

GUS DUR DI MATA HABIB LUTHFI BIN YAHYA

Memiliki jiwa dan anak keturunan yang shaleh adalah dambaan setiap muslim. Predikat “shaleh” bukanlah sembarangan predikat. Lihat bagaimana seorang nabi dan rasul serta berpredikat Khalilullah Sayyiduna Ibrahim As. saja masih mendambakan keshalehan dalam doanya:

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

“Robbi habliy minashshoolihiin” (Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh). (QS. ash-Shaffaat ayat 100).



Ketua Umum Jam’iyyah Ahlut Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah Maulana al-Habib Luthfi bin Yahya mengaku tidak bisa menyimpulkan apakah Gus Dur wali atau bukan, tetapi ia yakin Gus Dur orang yang shaleh.

“Yang tahu wali hanya wali. Dan saya husnudzan billah beliau orang yang shaleh,” kata beliau seusai memberi taushiyah salah satu acara Maulid Nabi Saw. yang diselenggarakan Ansor NU.

Beliau menjelaskan bahwa keshalehan atau kewalian seseorang tidak bisa diukur atau dibandingkan layaknya emas berapa karat. “Shaleh ya shaleh, keshalehan seseorang tidak bisa kita ukur, apalagi keauliyaan . Tinggal prasangka baik kita, apalagi Gus Dur yang sudah berbuat untuk umat ini, untuk bangsa ini,” tandas beliau.

Lihat betapa seorang ulama besar masa ini, Rais ‘Am, Ketua Umum thariqat di Indonesia bahkan dunia, mengakui akan keshalehan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Seharusnya saya malu menganggap bahwa Gus Dur bukanlah siapa-siapa, apalagi sampai mencacinya. Lhah kita ini siapa dibanding beliau Maulana al-Habib Luthfi bin Yahya?

Takkan terlupakan diri ini di setiap kali ta’lim hari Ahad pagi di Majelis Ta’lim al-Hikmah Ketitang Talang tegal, sang pembina yang mulia al-Habib Qasim bin Hasan bin Husein bin Syaikh Abubakar bin Salim semasa hidupnya tak pernah luput untuk senantiasa mendoakan dua nama ulama yang disejajarkan, yakni Gus Dur dan al-Habib Luthfi.

Lahum al-Fatihah...



GUS DUR DI MATA HABIB LUTHFI BIN YAHYA

Memiliki jiwa dan anak keturunan yang shaleh adalah dambaan setiap muslim. Predikat “shaleh” bukanlah sembarangan predikat. Lihat bagaimana seorang nabi dan rasul serta berpredikat Khalilullah Sayyiduna Ibrahim As. saja masih mendambakan keshalehan dalam doanya:

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

“Robbi habliy minashshoolihiin” (Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh). (QS. ash-Shaffaat ayat 100).

Ketua Umum Jam’iyyah Ahlut Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah Maulana al-Habib Luthfi bin Yahya mengaku tidak bisa menyimpulkan apakah Gus Dur wali atau bukan, tetapi ia yakin Gus Dur orang yang shaleh.

“Yang tahu wali hanya wali. Dan saya husnudzan billah beliau orang yang shaleh,” kata beliau seusai memberi taushiyah salah satu acara Maulid Nabi Saw. yang diselenggarakan Ansor NU.

Beliau menjelaskan bahwa keshalehan atau kewalian seseorang tidak bisa diukur atau dibandingkan layaknya emas berapa karat. “Shaleh ya shaleh, keshalehan seseorang tidak bisa kita ukur, apalagi keauliyaan . Tinggal prasangka baik kita, apalagi Gus Dur yang sudah berbuat untuk umat ini, untuk bangsa ini,” tandas beliau.

Lihat betapa seorang ulama besar masa ini, Rais ‘Am, Ketua Umum thariqat di Indonesia bahkan dunia, mengakui akan keshalehan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Seharusnya saya malu menganggap bahwa Gus Dur bukanlah siapa-siapa, apalagi sampai mencacinya. Lhah kita ini siapa dibanding beliau Maulana al-Habib Luthfi bin Yahya?

Takkan terlupakan diri ini di setiap kali ta’lim hari Ahad pagi di Majelis Ta’lim al-Hikmah Ketitang Talang tegal, sang pembina yang mulia al-Habib Qasim bin Hasan bin Husein bin Syaikh Abubakar bin Salim semasa hidupnya tak pernah luput untuk senantiasa mendoakan dua nama ulama yang disejajarkan, yakni Gus Dur dan al-Habib Luthfi.

Lahum al-Fatihah...

http://pustakamuhibbin.blogspot.com/2013/07/gus-dur-di-mata-habib-luthfi-bin-yahya.html
S