div id='fb-root'/>
  • CAKNUN.
  • Bersama Zastrow el-ngatawi
  • Jombang 1-5 Agustus 2015.
Tampilkan postingan dengan label SASTRA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SASTRA. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Oktober 2016

PARA KEKASIH IBLIS

OLEH : MUHAMMAD AINUN NADJIB
Semakin banyak orang tahu bahwa dunia ini bergerak menuju “Indonesia harus terus hidup, tapi jangan sampai besar dan kuat. Negara Indonesia harus lemah, bangsa Indonesia harus kerdil”.

Maka orasi seorang tokoh tua di sebuah “rapat gelap” ini mungkin justru merupakan ungkapan cinta yang mendalam dan pembelaan kepada Indonesia:

“Kita bangsa Indonesia jangan sampai berhenti berjuang sebelum Indonesia benar-benar total kehilangan Indonesianya. UUD perlu kita amandemen terus sampai berapa kalipun sampai kelak nasionalisme dan kedaulatan keIndonesiaan terkikis habis”.
“Setiap bikin undang-undang baru, peraturan-peraturan baru, di lembaga kenegaraan sebelah manapun, di tingkat paling atas sampai bawah, sebaiknya dipastikan menuju proyek besar sejarah de-nasionalisasi Indonesia hingga titik paling nadir”.

“Demikian juga policy dan penanganan segala bidang: perdagangan, pertanian, perpajakan, pendidikan, kebudayaan, sampaipun cara berpikir dan selera makan, hendaknya jangan memanjakan ke-Indonesiaan. Bangsa Indonesia adalah bangsa besar yang dengan ketangguhannya siap ditimpa dan memikul ujian-ujian sangat berat yang tak mungkin dipanggul oleh bangsa-bangsa lain”.

“Pemimpin bangsa berikutnya haruslah lebih buruk. Nasionalisme Indonesia harus dihajar habis sampai tingkat kematian yang memungkinkan ia lahir kembali. Kita memerlukan tempo yang lebih tinggi untuk menyelenggarakan kehancuran, kebobrokan dan kebusukan — bangsa kita amat sangat tahan derita, sanggup hidup nyaman dalam kebusukan, bahkan mampu hidup sebagai kebusukan itu sendiri”.

“Dialektika Penghancuran Nasional harus dipacu habis. Kokohkan setiap pemerintahan sebagai perusahaan yang memanipulasi dan mengeksploitasi rakyatnya. Proyek penjualan tanah air dengan segala kekayaannya harus dijadikan ideologi utama”.

Pasti itu bukan pernyataan politik. Bukan anjuran sejarah. Itu jeritan orang patah hati.

Kalau Negara rusak, pemerintahan penuh dusta, sistem bobrok dan prinsip nilai jungkir-balik: yang terutama menangis adalah “orang”. Adalah “manusia”. Adapun Negara, pemerintah, ssstem, nilai, tak bisa menangis, tak bisa bersedih. Juga tak menanggung apa-apa. Yang menanggung duka derita adalah manusia.

Jadi tulisan ini tak lebih hanyalah tegur sapa dengan sesama manusia, dengan derita hatinya, tangisnya, sepi dan bisunya.

Dan apa boleh buat, kalau menyapa manusia, tidak mungkin dilakukan tanpa menyapa juga pihak yang bikin manusia: Tuhan. Kemudian juga IBlis, “hulu” derita ummat manusia.

Iblis berkata : “Tahukan engkau, Muhammad, aku adalah asal usul dusta. Aku adalah makhluk pertama yang berdusta. Para pendusta di bumi adalah sahabatku. Dan mereka yang bersumpah kemudian mendustakan sumpah itu, mereka adalah kekasihku”.

Kurang jelaskah pemandangan wajah Indonesia sekarang ini di kalimat Iblis itu? Kurang tampakkah, sosok pemerintahan Indonesia, tradisi mental banyak pejabatnya, pengkhianatan terhadap amanat kerakyatannya, juga manipulasi kebijakan yang sangat tidak bijak — pada pernyataan Iblis itu?

Dan, pen “citra” an, apakah gerangan ia kalau bukan dusta? Siapakah yang memamerkan wajahnya, menyorong punggungnya, menyodorkan dirinya untuk menjadi pemimpin, selain sahabat dan kekasih Iblis?

Iblis tidak berjarak dengan diri kita, dengan karakter budaya, politik dan pasar sejarah kita. Malah Tuhan yang jaraknya cenderung semakin menjauh dari kita, kecuali pas kita perlukan untuk memperoleh keuntungan atau mentopengi muka.

Akan tetapi dalam kehidupan kita Iblis bukan fakta. Ia hanya simbol. Idiom. Icon. Hanya abastraksi untuk menuding “kambing hitam”. Atau Tuhan kita perlukan untuk kapitalisasi karier, bisnis pendidikan, usaha dagang sedekah dan industri zakat, kostum religi perbankan dan bermacam-macam lagi dusta liberal penyelenggaraan kapitalisme kita.

Tuhan juga makin jadi “dongeng”. Segera Ia akan masuk daftar dongeng sesudah Malaikat dan dan Iblis. Peta mitos. Khayalan tentang suatu pemahaman yang disepakati istilahnya: Iblis, Setan, Dajjal, sebagaimana abstraksi kata Bajingan, Bangsat, Dancuk, Anjing. Sebab pada makian “Anjing!” yang dimaksud bukan benar-benar anjing. Anjing adalah binatang yang baik, tidak pernah berdosa, tidak pernah berbuat jahat dan tidak ada statemen Tuhan yang menyatakan bahwa anjing masuk neraka. Bahkan dalam faham pewayangan malah Puntadewa atau Prabu Dharmakusuma yang hidupnya sangat ikhlas dan sumeleh, tidak bisa naik ke langit yang lebih tinggi sementara anjingnya melaju ke sana.

Iblis dipahami sebagai simbol, tidak sebagai fakta. Itupun wilayah berlakunya simbolisasi Iblis tidak dipetakan secara memadai. Iblis diidentifikasi sebagai “idiom” untuk menyebut segala jenis keburukan dan kejahatan manusia — dan itu tidak sepenuhnya benar. Sedangkan “arupadatu” di Borobudur pun fakta, tak hanya “rupa datu” yang tampak oleh mata, yang tergolong “Ilmu Katon”: pemahaman tentang segala sesuatu yang bisa dilihat dengan mata. Iblis sendiri tidak sepenuhnya tinggal di wilayah “arupadatu”. Ia sangat faktual di “rupadatu”, sebab ia berada pada syariat utama kehidupan manusia, yakni darah yang mengalir di dalam tubuhnya.

“Kamu Muhammad”, kata Iblis suatu hari, “tak akan bisa berbahagia dengan ummatmu, karena aku bisa memasuki darah mereka tanpa mereka bisa menemukanku”. Iblis melanjutkan, “aku minta kepada Allah agar menganugerahiku kemampuan untuk mengalir di dalam darah manusia, dan Allah menjawab Silahkan!”.

Sebentar. Yang menyuruh Iblis datang ke Muhammad adalah Tuhan sendiri. Yang disuruh itu lazimnya adalah anak buah. Dan kalau musuh tidak pada tempatnya menyuruh musuh. Allah menginstruksikan agar Iblis tidak berdusta kepada Muhammad, menjawab pertanyaan dengan jujur, serta membuka semua rahasia tugasnya dari Allah di medan kehidupan manusia.

Coba ingat kata-kata Iblis “Akulah makhluk pertama yang berdusta”. Fakta dusta Iblis yang pertama adalah ia tidak mau bersujud kepada Adam. Penolakan untuk menghormati manusia ini parallel dengan pernyataan semua Malaikat kepada Tuhan: “Kenapa Engkau ciptakan manusia, yang kerjanya merusak bumi dan menumpahkan darah”. Andai di-kalimat-kan, Iblis meneruskan: “Maka aku menolak bersujud kepada Adam”.

Kemudian Allah mengizinkan Iblis yang meminta “tangguh waktu” sampai hari Kiamat, untuk kelak membuktikan bahwa setelah menjalani sekian peradaban, manusia terbukti tidak punya kelayakan untuk dihormati atau “disembah” oleh Iblis dan para Malaikat. Dan Iblis hari ini tersenyum-senyum: tak perlu nunggu sampai Kiamat, datang saja ke Indonesia tanggal berapa bulan apa saja untuk menemukan bahwa penolakan bersujud oleh Iblis itu pada hakekatnya bukan dusta.

Jadi, siapa yang lebih kompatibel dengan neraka: kita atau Iblis? Ketika ada orang berbuat jahat, kita maki “Dasar Iblis!”, secara idiomatik makian itu tidak faktual. Ketika 70.000 anak-anak Iblis berdebat, lantas salah satu dari mereka memaki “Dasar manusia!”, itu bisa jadi itu malah benar dan jujur.

Kayaknya salah satu kesalahan manusia yang paling serius adalah memanipulasi Iblis. Padahal seluruh keburukan yang kita ludahkan itu bukan bikinan Iblis, melainkan produk keputusan kita sendiri.

“Aku tidak diberi kemampuan oleh Allah untuk menyesatkan manusia”, kata Iblis lagi kepada Muhammad, “Aku hanya membisiki dan menggoda. Kalau aku dikasih kuasa untuk menyesatkan manusia, maka tak akan tersisa satu orangpun yang tidak menjadi pengikutmu. Sebagaimana engkau Muhammad, tak ada kemampuanmu untuk memberi hidayah kepada manusia. Engkau hanya berhak dan mampu menyampaikan, tetapi tak bisa mengubah hati manusia. Sebab kalau kau dianugerahi kesanggupan untuk memberi hidayah, tak akan ada satu orangpun yang menjadi pengikutku”.

Begitu banyak — mengacu ke Borobudur — fakta “rupadatu” pada kehidupan manusia yang mata mereka tak melihatnya. Udara yang ia hirup, suaranya sendiri, bahkan mata tidak mampu melihat mata, paling jauh ia melihat bayangannya di cermin, tapi bukan diri mata itu sendiri. Jangankan lagi dengan semakin canggihnya teknologi ultra-modern sekarang: kita bingung siaran televisi itu berasal dari “rupadatu”, diantarkan oleh “arupadatu”, ditangkap dan diekspressikan secara “rupadatu”. Belum lagi ke kerjaan frekwensi yang lain: software di komputer, lalulalang Sms, Bbm, unduh ini unggah itu. Dulu saya menyangka telegram itu dikirim kertasnya meluncur nyantol lewat kabel-kabel sepanjang jalan. Se-nyata dan se-faktual itulah Iblis dalam kehidupan kita, bahkan di dalam diri kita, bahkan ia mengalir di dalam darah kita.

Maka sebagaimana formula “casting” Iblis, orasi tokoh tua kita di atas tepatnya dipahami tidak dengan logika linier. Ia suatu lipatan, mungkin dialektika berpikir yang zigzag, mungkin spiral, mungkin siklikal. Kalimat seniman kita “Nasionalisme Indonesia harus dihajar habis sampai tingkat kematian yang memungkinkan ia lahir kembali” adalah sisipan cita-cita mulia di tengah deretan pernyataan yang seolah-olah mendorong kita ke kehancuran.

Muhammad bertanya, “Siapa temanmu?”

Iblis menjawab, “Para pemakan riba”. Sangat jelas mappingnya di Indonesia.

“Siapa tamumu?”

“Para pencuri”. Sampai-sampai diperlukan KPK, yang kita doakan segera bubar, yakni sesudah Kepolisian Kejaksaan Kehakiman bisa dipercaya untuk menangani perilaku tamu-tamu Iblis.

“Siapa utusanmu?”

“Tukang-tukang sihir”. Sihir pemikiran, cara berpikir, peta manipulasi wacana berpikir, di Sekolah, Kampus, semua media wadah pemikiran.

“Siapa teman tidurmu?”

“Para pemabuk”. Mabuk idolatri, mabuk tayangan-tayangan, mabuk artis-artisan, Ustadz-ustadzan, Gus-Gusan, Kiai-Kiaian… yang terbuat dari plastik… seperti mobil-mobilan untuk kanak-kanak di pasar Kecamatan.

Iblis juga menyindir kita: “Gosip dan adu-domba adalah hobiku”.

Ada baiknya kita undang Iblis menjadi narasumber rembug nasional, dengan syarat: “Aku mendatangi semua manusia, yang bodoh maupun pintar, yang durjana atau yang salah, yang bisa membaca atau buta huruf. Semuanya, kecuali orang ikhlas”.

Yogya 25 September 2012
Dimuat di Kolom, Majalah Gatra No. 49 XVIII 11 Oktober – 17 Oktober 2012.

Selasa, 30 Agustus 2016

ROKOK SEKETEWU


Mondar-mandir sembari senewen’
Dolkecut..’ Gelisah. karna mendapatkan kabar’
harga Rokok akan naik 50.000.
terjadilah percakapan menarik antara Dolkecut dengan Kyainya.
Cekibrooot....!!!!!
__________________
Dolkecut :
Kyai...ini kok orang- orang Busuk’ semakin mengGila..’
setelah mereka gagal dengan isu
“Rokok itu merusak kesehatan”
“Rokok itu Haram”
ee....’ sekarang masih saja...’
dengan mau menaikkan Harga rokok..’
Gimana ini Kyai..’?’....
kalo benar rokok mau naik menjadi 50.000 ribu.
kan bisa mamfuzz saya.
Kyai nganu :
kamu kok ya Masih Latah aja Cut...’
Dengar isu gitu aja Kageet..’.
Dolkecut :
Isu Gimana Kyai?’...
ini beneran Lo....”
Apa ndak tau njenengan Kyai”.
Sampe Wakil Presiden kita aja mendukung.
Kyai nganu :
dengar Cut....!!
itu hanya taktik pertempuran yang biasaa..
Mudah dibaca.
Dolkecut :
Maksud Kyai?’...
Kyai nganu :
Alurnya gini Cut...:
kaum anti rokok pesanan orang Busuk’ itu mereka tugaskanpura-pura bikin studi,
“para Perokok akan berhenti merokok apabila rokok naik menjadi 50.000 perbungkus"
-di ejakulasikan ke situs Web abal-abal
- diCreeetttt kan tim buzzer kedunia maya plus dibumbui berbagai gimik kreatif.
-setelah Klimaks, mereka plasement-kan di media-media besar biar seakan-akan berita.
-hingga lahirlah respon
.
tim opinion leaders melakukan pemlintiran untuk dihadiahkan ke ‘leading sectors’
Jadilah isu yang semula berasal dari ‘kajian’, berubah menjadi ‘usulan’,
bergeser menjadi ‘seakan-akan mau terjadi’, lalu matang dalam isu:
‘sudah pasti terjadi’.
Isu makin legit karena para politikus prorokok juga ikut latah menanggapi.
Plus, perang netizen di dunia maya yang terus berkobar.
Semua berjalan dengan sempurna.
Isu yang ‘sudah pasti terjadi’ ini tinggal digiling di ‘mesin akhir tim’ yang sudah siap di Pemerintah.
jadi ini bukan hanya soal harga rokok.
tapi lebih luas dari itu. Cuut...!!!!!
karna orang yang kamu Sebut Busuk’ itu tau bahwa masyarakat Indonesia tidak bisa lepas dari rokok.
tau kenapa Cutt...”
karna hanya di negeri tenggalan sorga ini’’ rokok paling enak dinikmati.
"kamu bisa bayangkan kan?’...
Bagaimana kamu Berak’ tanpa ngrokok?’.....
“Hambarrr”.
Mereke tau potensi itu.
Dolkecut :
Tau Ahh....’
Pusing...’ aku Kyai..
bahasa jenengan Absurtd...’
Kyai nganu :
Ooo......
dasar murid
Asuuuu....!!!!
____________
Tanbih :
ungkapan ASUU....!!! Kyai nganu terhadap murid-muridnya bukanlah sebuah umpatan,
melainkan wujud keCINTAan.

Senin, 15 Februari 2016

Doa Cinta

Ya Allah,
Lukaku tak akan tersembuhkan
kecuali dengan karunia dan kasihMu
Kefakiranku tak akan terkayakan
kecuali dengan cinta dan kebaikanMu
Ketakutanku tak akan tertenangkan
kecuali dengan kepercayaanMu
Keinginanku tak akan terpenuhi
kecuali dengan anugrahMU

Doa Cinta

Ya Allah,
Yang tiada aku harapkan kecuali karuniaMu
tidak aku takutkan kecuali keadilanMu
tidak aku percayai kecuali firmanMu
tidak aku pegangi kecuali taliMu
KepadaMu aku berlindung
Wahai Pemilik Ridlo dan Ampunan
dari kedlaliman dan permusuhan
dari bencana zaman
dari runtutan kesedihan
dari rangkaian kemalangan
dari habisnya jangka sebelum siap sedia
KepadaMu aku mohon bimbingan pada apa yang baik
dan mendatangkan kebaikan

Doa Cinta

Ya Allah,
Puji bagiMu yang mencipta langit dan bumi tanpa seorang saksi
yang menggelar makhluk tanpa seorang pembantu
Tidak ada sekutu dalam keilahian
Tidak ada setara dalam ketunggalan
Kelu lidah mengungkap sifatMu
Lemah akal memerikan makrifatMu
Merendah segala penguasa karena kehebatanMu
Rebah segala wajah karena takut padaMu
Jatuh segala yang agung karena keagunganMu

Majnun Cinta


Sedulurku tercinta, aku tak bosan-bosannya membaca novel Layla Majnun, dari cetakan yang lama sampai cetakan terbaru dari pengarang Hakim Nizhami itu. Bagi Majnun [nama aslinya Qois], cinta didefisinikan dengan sangat konkret, ia mencintai apa saja yang datang dari tempat kekasihnya. Ia mengembara sejak perpisahannya dari sekolah bersama Layla [karena orang tua Layla merasa ternoda kehormatannya], menyebut-nyebut nama Layla, dengan berjalan terseok-seok, ia menulis puisi untuk Layla dan membacanya sepanjang perjalanan. Ia tidak berbicara apa pun kecuali tentang Layla [anak gadis yang bermata hitam, rambut hitam, sehitam malam, makanya disebut Layla], Ketika orang lain mengajaknya bicara, ia tidak pernah menjawabnya kecuali kalau orang itu membicarakan Layla.

Senin, 06 April 2015

( INDONESIA INDONESAH) NOT FOR SALE, HANDLE WITH CARE

GUS BUL: 
Sodara-sodara, apakah sampeyan sudah sepakat membubarkan Indonesia?

SANTRI: Nanti dulu Gus, interupsi! Mbok jangan ngelantur gini!
GUS BUL: 
Saya sama sekali tidak sedang melantur! Ini rumus akal sehat yang sampeyan tidak berani mengatakannya.
SANTRI: 
Lha terlintas saja ndak pernah e…apalagi mengatakan!

Minggu, 05 April 2015

MUI itu Sebenarnya Makhluk' jenis Apa?'......................

colkecut :
Kyai...' itu "SImbah Kakung" nanya Kyai..'
MUI itu makhluk' jenis apa?'......
Kyai Jarkoni :
Apaa?'..... MUI?,
eemm...."setau saya cut..'
Yaa..'mungkin sebangsa makhul jenis jadi-jadian lah Cutt..!!
DOlkecut :
Waaahh...'ngawur njenengan Kyai..
Hati-hati Lo..'
ALmarhum "Mbah Sahal mahfudz" yang NU beliau juga Ketua MUI lo..."
Kok berani-beraninya njengan ngendiko begitu..' Istighfar Kyai..!!!

Jumat, 03 April 2015

"Situs Islam itu pembodohan"

Dolkecut :
Kyai...' bagaimana pandagan njengan soal pemblokiran situs-situs Islam itu Kyai..."?"...
Kyai Jarkoni:
Emang ada situs Islam Cutt?'.... 
situs kok di-agama'kan. Dangkal...!!!!
Dolkecut :
la itu situs seperti hidayatulloh, panjimas voi islam dkk itu Kyai..".
yg di blokir atas rekomendasi BNPT, katanya kok Membahayakan gitu.
Kyai jarkoni :
Oooo...' kalo situs-situs itu kategori yg ndak mutu, dangkal, dan kadang bikin sumuk' memang'. jauuuh dari nilai Islam..".
setau saya situs-situs itu yg ngelola model orang-orang WAHABSU Cutt..!!."
Saya Justru malah curiga..' kenapa BNPT mendadak cerdas gini ya...'.
jangan-jangan mereka sering ngaji sambil cangkruan dengan para santri-santri kampung.'.

Jumat, 20 Maret 2015

Cerpen : Gus Muslih

OLeh  : A Mustofa Bisri

GUS Muslih adalah seorang kiai muda yang tidak hanya cerdas dan 

kritis, tapi juga tegas dan lugas. Apabila melihat sesuatu yang 

dianggap tidak benar, tanpa ragu dia akan terang-terangan 
menyalahkan. Ungkapan yang paling disukai ialah qulilhaqqa walau 
kaana murran, katakanlah yang benar meski terasa pahit. Anak-anak 
muda paling suka mengundang Gus Muslih untuk memberikan ceramah.

Cerpen Kang Kasanun

Oleh: A. Mustofa Bisri
Mendengar cerita-cerita tentang tokoh yang akan aku ceritakan ini, baik dari ayah atau kawan-kawannya seangkatan di pesantren, aku diam-diam mengaguminya. Bahkan seringkali aku membayangkannya seperti Superman, Spiderman, atau si Pesulap Mandrake. Wah, seandainya aku berkesempatan bertemu dengannya dan dapat satu ilmu saja, lamunku selalu. Ayah maupun kawan-kawannya selalu menyebutnya dengan Kang Kasanun. Tidak ada yang menyebut namanya saja. Boleh jadi karena faktor keseniorannya atau karena ilmunya.

Bidadari itu Dibawa Jibril (Cerpen)

Oleh: A. Mustofa Bisri

Sebelum jilbab populer seperti sekarang ini, Hindun sudah selalu memakai busana muslimah itu. Dia memang seorang muslimah taat dari keluarga taat. Meski mulai SD tidak belajar agama di madrasah, ketaatannya terhadap agama, seperti salat pada waktunya, puasa Senin-Kamis, salat Dhuha, dsb, tidak kalah dengan mereka yang dari kecil belajar agama. Apalagi setelah di perguruan tinggi. Ketika di perguruan tinggi dia justru seperti mendapat kesempatan lebih aktif lagi dalam kegiatan-kegiatan keagamaan.

Dalam soal syariat agama, seperti banyak kaum muslimin kota yang sedang semangat-semangatnya berislamria, sikapnya tegas. Misalnya bila dia melihat sesuatu yang menurut pemahamannya mungkar, dia tidak segan-segan menegur terang-terangan. Bila dia melihat kawan perempuannya yang muslimah--dia biasa memanggilnya ukhti--jilbabnya kurang rapat, misalnya, langsung dia akan menyemprotnya dengan lugas.

Selasa, 17 Maret 2015

CERPEN “GUS JAKFAR”


Karya GUS MUS

Di antara putera-putera Kiai Saleh, pengasuh pesantren "Sabilul Muttaqin" dan sesepuh di daerah kami, Gus Jakfar-lah yang paling menarik perhatian masyarakat. Mungkin Gus Jakfar tidak sealim dan sepandai saudara-saudaranya, tapi dia mempunyai keistimewaan yang membuat namanya tenar hingga ke luar daerah, malah konon beberapa pejabat tinggi dari pusat memerlukan sowan khusus ke rumahnya setelah mengunjungi Kiai Saleh. Kata Kang Solikin yang dekat dengan keluarga ndalem, bahkan Kiai Saleh sendiri segan dengan anaknya yang satu itu.

Jumat, 13 Februari 2015

"Islamic Valentine Day"

Oleh : Muhammad Ainun Najib.
JUDUL ini harus dikasih tanda petik di awal dan akhir, karena sesungguhnya itu istilah ngawur dari sudut apapun kecuali dari sisi iktikad baik tentang cinta kemanusiaan.
Islam bukan kostum drama, sinetron atau tayangan-tayangan teve Ramadhan. Islam itu substansi nilai, juga metodologi. Ia bisa memiliki kesamaan atau perjumpaan dengan berbagai macam substansi nilai dan metodologi lain, baik yang berasal dari “agama” lain, dari ilmu-ilmu sosial modern atau khasanah tradisi. Namun sebagai sebuah keseluruhan entitas, Islam hanya sama dengan Islam.Bahkan Islam tidak sama dengan tafsir Islam. Tidak sama dengan pandangan pemeluknya yang berbagai-bagai tentang Islam. Islam tidak sama dengan Sunni, Syi’i, Muhammadiyah, NU, Hizbut Tahrir dan apapun saja aplikasi atas tafsir terhadap Islam. Islam yang sebenar-benarnya Islam adalah dan hanyalah Islam yang sejatinya dimaksudkan oleh Allah.

Rabu, 28 Januari 2015

: ~ Cak Nun, Pengayom Rakyat Tertindas ~ :.

    _Pada suatu pengajian Cak Nun di Demak, tiba-tiba ada seorang remaja naik ke atas panggung. Dengan sigap, panitia acara lantas mengusir remaja laki-laki gila tersebut, karena panitia dan masyarakat sekitar tahu bahwa remaja laki-laki tersebut memang terkenal gila betulan.


    Di saat ribuan orang menganggapnya gila, hanya satu orang yang mau menyapa hatinya. Cak Nun memanggil remaja laki-laki gila tersebut untuk kembali ke atas panggung. Di saat ribuan orang menganggapnya seperti virus penyakit sehingga harus dijauhi, bahkan kalau perlu diludahi kalau nekat mendekat, Cak Nun langsung mendekap tubuh bocah kesepian tersebut.

    Bocah tersebut pun sangat kaget, karena di dunia ini masih ada orang yang mau menyapa hatinya, bahkan memeluk tubuhnya. Tanpa ada rasa jijik sedikitpun. Tanpa ada rasa malu sedikitpun. Sosok berbaju putih tersebut justru memeluknya semakin mesra dan menatap ribuan jama’ah sambil tersenyum. Seolah Cak Nun ingin bilang pada masyarakat Demak, “Ini salah satu anakku.”

Selasa, 18 November 2014

# Ngobrol pagi di ujung dusun #

Bismillah....
Pagi menjelang, kala matahari sedikit merangkak, tampak si wakhid msh berkalung sorban, pulang dari mushala kecil di kampungnya.
Ketika melewati warung kecil, ia berhenti menghampiri orang yg sedang ngobrol serius, apa yg di bicarakan ya....? ia pun singgah.
Ari: hee kang wakhid, baru pulang dr mushala,...?
Wakhid: iya ni om ari, sekalian td mampir bersihin saluran air, buat ngaliri tembakau.., ngobrol apa kok serius banget...
Muji: ini.... lagi ngomongke harga bbm yg barusan naik.
Ari: iya niih piye, jaman susah kok malah bbm naik, jd pusing ini..
Junedi: demo ajaaa... bakar ban di jalan gitu aja repot..
Wakhid: waah yo jangan, malah ngganggu kenyamanan orang lain to pak jun,
lagian mereka pada demo teriak bbm naik bikin susah, tp nyatane do masih bisa internetan, face bookan, bbm man, belikan hadiah pacarnya kok,.
Muji: he he he iya bener banget itu.
Ari: lha nasib rakyat piye ini...?

Teruslah bekerja jangan berharap pada Negara



Dolkecut :
Kyai....’ gimana nasip Rakyat Kyai”?.....
Kalo BBM naik seperti ini.
Tak menyangka kalo Pak Joko benar-benar mau menaikkan BBM,
karna harapan saya dulu, saya memilihnya karna Partai yang mengusungnya adalah Partai yang Pro Rakyat.
partai yang selama ini paling Getol..’ kalo ada Kebijakan pemerintah yang Menaikkan BBM”
ternyata sama aja, sama-sama Busuk...”.!!!
BBM naik, otomatis semua naik kan Kyai..’?”....

Kyai :
hehehehe...’
Salahmu dewe Cutt...”.
Kau memilih, tapi Tidak Ikhlas...”.
kamu masih mengharapkan Imbalan dari jasa memilihmu..!!!!

Senin, 06 Oktober 2014

selamat datang di negeri bokong!



Puisi: A Mustofa Bisri

lukisan karya: A Mustofa Bisri
selamat datang di negeri bokong!
negeri sejuta kubah bokong
negeri pengembang peradaban bongkong
penggoyang kemapanan bokong
negeri pengimport kloset terbesar di dunia
negeri yang tak pernah cukup
dengan kursi-kursi yang ada
karena di negeri bokong
bokong adalah prioritas utama

Sabtu, 27 September 2014

Di Mana Tuhan?...............

antri-prasmanan
Alkisah ditengah padang yang sepi Nabi Musa ‘alaihis salam kebetulan melewati seorang gembala yang sedang bercakap seorang diri,
“…di manakah Engkau, supaya aku dapat menjahit bajuMu, menisik kasutMu dan menata peraduanMu? Di manakah Engkau, supaya aku dapat menyisir rambutMu dan mencium kakiMu? Di manakah Engkau, supaya aku dapat mengilapkan sepatuMu dan membawakan air susu untuk minumanMu?”
“Bicara dengan siapa kamu?” Nabi Musa penasaran.
“Dengan Penciptaku, yang menguasai segalanya…”
“Apa??!” Nabi Musa murka seketika, “Alangkah lancang mulutmu! Kau kotori kesucian Tuhan dengan ucapan-ucapanmu itu!”

Si gembala terpukul oleh teguran keras Sang Nabi. Ia pun menyingkir dengan berurai air mata,
“Mulai sekarang, aku akan menutup mulutku selamanya…”
Nabi Musa membiarkannya berlalu, diam-diam merasa lega telah menunaikan tanggung jawabnya menjaga kesucian Tuhan. Tapi tak bisa lama. Kalam Allah menghentaknya,
“Mengapa engkau menghalang antara Aku dengan kekasihKu? Mengapa engkau pisahkan pencinta dari Kekasihnya?”
Tuhan ganti menegur rasulNya dan mengutusnya menyampaikan pesan cintaNya kepada si gembala.
Ini bukan pembenaran atas gagasan kaum Wahabi yang –dengan dalih menolak takwil– beranggapan bahwa Tuhan itu wujud jisim (eksistensi fisik) yang berbentuk dan berbadan. Mahasuci Allah dari segala penyifatan yang tak layak bagiNya. Teguran Tuhan kepada Nabi Musa itu bukan pembenaran atas kata-kata yang terucap oleh si gembala. Dalam kisah ini, Tuhan menegaskan bahwa kata-kata tinggallah kata-kata ketika cinta membuncah menerjang segala muara. Kata-kata bukan lagi utusan makna, melainkan hanya percikan dari air bah yang derasnya tak terpermana. Maka, teologi bukanlah segalanya.
Hanya saja, maqam cinta memang bukan milik semua orang. Hanya orang-orang khusus pilihanNya Sendiri yang Dia tempatkan disana. Orang awam membutuhkan teologi untuk menuntun akalnya. Dan kita pun mengikuti panduan Imam Abul Hasan Al Asy’ari atau Imam Abu Manshur Al Maturidi. Bukan untuk menangkap Candra Tuhan, tapi sekedar menjaga agar tidak terjerumus kedalam waham yang mengoyak iman.
Diantara panduan pokok Imam Abul Hasan Al Asy’ari adalah penegasan bahwa Tuhan itu tak terbatas. Mendakwa Tuhan berada dalam kedudukan terbatas, diatas atau dibawah, di langit atau di suatu tempat tertentu, termasuk ‘Arasy, tidaklah pantas bagi akal yang menyucikan Tuhan. Kecuali akal kanak-kanak yang boleh dimaklumi kedangkalannya.
Anak-anak panti asuhan mengantri makan. Prasmanan, tapi jelas dibatasi karena makanan harus cukup untuk semua orang.
Pengasuh panti ingin menanamkan kejujuran, membiarkan anak-anak mengambil sendiri jatah masing-masing dari sajian yang terjajar rapi diatas meja panjang itu. Di dekat piring tempe goreng yang letaknya paling depan, diletakkan tulisan peringatan:
“AMBIL SATU-SATU SAJA! INGAT, TUHAN MENGAWASI!”
Anak-anak tampak patuh semua. Tapi, ketika sampai di keranjang buah jeruk yang letaknya paling ujung, Darmo main curang. Diam-diam mengambil tiga!
“Mo! Kok ngambil tiga?” Ronny –tandem mbelingnya– menegur setengah berbisik.
“Sssst… Tenang saja…”, Darmo mengedip, “Tuhan lagi ngawasin tempe…”

 Sumber : Teronggosong.com

Selasa, 16 September 2014

Blepotan

Dolkecut : Kyai....". Musibah Kyai.....".benar- benar Bencana....". masyarakat awam benar2 sudah menjadi kurban, pemikiran Liberal yg sesat Kyai....". Subhanalloh mereka berijtihad ngawur Kyai....". Masa nikah beda agama mereka legalkan. Kimat Kyai...." Kiamaatttt.....".

Kyai Jarkoni : Top....BGT, kamu sekarang Cuttt......'. Bahasamu itu Lohh....". Udah semakin kaya aja. Musibah, bencana, liberal, kurban, sesat, ijtihad. Opo maneh kuwi mau?"....

Dolkecut : Ya....memang bener Kyai..." saya ini prihatin Kyai, sebagai muslim. Saya merasa wajib untuk menyampaikan ttg nilai2 Islam yg Kaffah, bukan yg awut-awutan.