div id='fb-root'/>
  • CAKNUN.
  • Bersama Zastrow el-ngatawi
  • Jombang 1-5 Agustus 2015.

Selasa, 10 Maret 2015

Quo Vadis AHMADIYAH (Wawancara Dr. KH. Abdul Ghofur MZ. LC. M.Si) dengan Majalah Sinar (bag-1)



Dr. KH. ABDUL GHOFUR MZ. Lc. M.SI
Aliran Ahmadiyah yang sudah menyebar dan merajalela di Nusantara ini membawa berbgai pertanyaan dalam ajarannya, sebenarnya bagaimana Aliran Ahmadiyah tersebut menurut Dr. KH. Abdul Ghofur MZ. Lc. M.Si. Moggo disimak sareng-sareng wawancara yang diadakan oeh majalah Sinar dan wawancara ini menjadi Makalah Talk Show yang diselenggarakan oleh PAC IPNU-IPPNU Kec. Kragan dan Irmas Al-Ishlah Kec. Kragan.
Silakan Simak baik-baik wawancara berikut


1. Menurut bapak apa aliran Ahmadiyah itu?
Ahmadiyah adalah aliran yang menjadikan Mirza ghulam Ahmad sebagai Imam Akbarnya. ghulam lahir di Punjab India, pada tahun 1835, dan mengaku diri mendapat wahyu sebagai nabi pada tahun 1876, saat itu usianya 41 tahun. Ahmadiyah sendiri didirikan tahun 1889, tiga belas tahun kemudian. Ini menyangkut karir pewahyuan.

Pada awal-awal pewahyuan, ia masih ragu. Bahkan ia tidak berani menamakan diri sebagai nabi, hanya muhaddats, atau orang yang diajak bicara oleh Allah SWT. Ia juga tidak berani mengaku diri sebagai Al-Masih. Atau ketika dia mengaku diri nabi, ia menganggap itu sebagai nabi majazan wa isti'aratan atau nabi dalam arti metaforis.

Dan tampaknya pada tahun 1889, ia telah mantap dengan wahyunya, maka mendirikan jamaat Ahmadiyah. Walau sebetulnya kemantapan yang tegas baru terjadi pada kira-kira tahun 1901, dua tahun setelah berdirinya jamaat Ahmadiyah.

2. Bagaimanakah akidah mereka dan apakah akidah mereka telah keluar dari maintream akidah islam sehingga mereka dapat dikatakan sesat atau bahkan kafir?
Mirza Ghulam Ahmad tampak sekali hidup dalam lingkungan sufistik yang kental, sehingga ia tidak merasa asing dengan pertemuan langsung antara manusia dengan tuhannya. Akan tetapi seperti sufi-sufi lainnya, ia beranggapan bahwa karir kenabian telah berakhir. Pertemuan antara manusia dengan Allah hanya bisa melalui "Ilham". Dalam wahyu-wahyu pertamanya, walaupun sudah ada penyebutan "ya nabiy" atau bahkan "ya rasuul" dia lebih memilih untuk memahami wahyunya itu dalam bentuknya yang metaforis.

Akan tetapi seiring dengan karir pewahyuannya yang semakin meningkat, baik folume maupun kwalitasnya, dia mulai mengubah pandangannya, keistimewaan berdialog dengan Allah yang ia peroleh bukan semata ilham kewalian, akan tetapi adalah wahyu kenabian.

Dalam al-Khazan Arruhaniyah, dia menegaskan "Almuhaddats", atau seseorang yang diajak bicara Allah, adalah nabi juga dalam salah satu artinya walaupun ia tidak mencapai kenabian yang sempurna, ia tetap seorang nabi parsial, karena ia mendapatkan kehormatan berdialog dengan tuhan, dan mendapat kesempatan penampakan hal-hal yang gaib.

Atas dasar inilah, akidah Ahmadiyah dibangun. Sebuah akidah yang menurut pengikutnya, merupakan revolusi atas konsep pewahyuan lama.

Sampai di sini, akidah Ahmadiyah tidak memiliki problem krusial. Dalam sebuah hadits ditegaskan pertemuan dengan Tuhan adalah bagian dari kenabian, atau kenabian yang sempurna. seperti riwayat Anas RA dari rasulullah SAW. "Kerasulan dan Kenabian telah terputus, maka tidak ada nabi dan rasul setelah diriku" Kata Anas: "ucapan baginda Rasul ini terasa berat bagi kami" lalu nabi mengatakan "Akan tetapi Al-Mubasysyiraat" kami menanyakan " Apa itu Al-Mubasysyiraat?" Kata Rasul "Mimpi-mimpi baik seorang muslim, itu adalah bagian dari kenabian".

Jika Pengakuan Mirza Ghulam Ahmad benar, maka itu adalah bagian dari kenabian, atau kenabian yang tidak sempurna. Menurut pengakuan Mirza, ia memang benar-benar berdialog dengan Allah SWT, dan hal itu ia peroleh melalui perantara "Nur Muhammady". Dan dari Nur Muhammady ini, kemudian lahir istilah "Naby Dzilly" atau nabi di bawah bayangan Nur Muhammady. Nur Muhammady sendiri adalah konsep sufy yang dikenalkan oleh Al-Hallaj dan Ibnu 'Aroby, dan luas dipercaya oleh para sufi. Ibnu 'Aroby juga mengaku hal yang sama, ia dalam mi'rojnya, mendapatkan nahwu, melalui perjalanan spiritualnya dibawah naungan Nur Muhammady.

Problem MGA (Mirza Ghulam Ahmad) menjadi serius, ketika pengakuannya ia sertai dengan "tahaddy", atau tantangan. Kenabian dan kerasulan adalah konsep internal dan eksternal sekaligus, semantara konsep kewalian, atau yang diistilahkan oleh MGA dengan kenabian parsial, atau kenabian dzilly, adalah internal belaka. Dalam pandangan para sufy, kewalian yang sempurna adalah bagi mereka yang mampu menyimpan rahasia ketuhanan. Al-Hallaj, ketika sadar dari "Jadzabnya", benar-benar menyesal karena telah mengumbar "rahasia ketuhanan".

Maksud dari eksternal adalah bahwa kenabian harus disuarakan kepada khalayak. dan untuk itu, kenabian memputuhkan dua hal. pertama tahaddy, atau tantangan atas sebuah mukjizat. kedua seorang nabi harus Ma'sum saat menyuarakan wahyu. tanpa kedua hal ini, kanabian menjadi tidak bermakna. Dan kenabian seperti ini implikasinya sangat berat. Sangat tepat sekali Baginda Rasul mengakhirinya saja.

Karena jika tantangan sudah diumumkan, dan kema'suman telah menyertainya, maka yang ia suarakan adalah kebenaran belaka. Persis disinilah keruwetan kenabian itu. Permasalahannya bukan lagi kebenaran kenabian itu sendiri, tetapi telah masuk kepada pembawanya, yakni nabi itu sendiri. umat nabi bukan lagi harus percaya kepada kebenaran kandungan wahyu, tapi juga harus percaya kenabian pembawanya.

Dalam pandangan umat islam secara umum, tidak lagi konsep kemaksuman setelah Nabi Muhammad, biarpun tinggi derajat seseorang, dan biarpun kemampuan dia berdialog dengan Tuhan. Biarpun pengakuan MGA benar, tetaplah dia tidak ma'sum -dan karena itu boleh dikritisi-, dan tidak ada konsekuensi apapun dengan tidak mempercayainya. Ibnu Taymiyah, yang sangat kritis terhadap Ibnu 'Araby, tidak kurang sedikitpun ketakwaanya, apalagi keislamannya, biarpun yang benar misalnya Ibn 'Araby. Kenabian parsial setelah Nabi Muhammad adalah internal.

MGA dengan memposisikan diri sebagai nabi dengan tahaddynya, ia telah menjadi "diktator" kebenaran. Kandungan wahyunya menjadi kebenaran mutlak, dan tidak boleh dikritik. Penafsirannya terhadap penyaliban Nabi Isa misalnya, menjadi satu-satunya penafsiran yang benar. bahkan implikasinya lebih luas lagi, yang tidak sah menjadi imam shalat bagi Ahmady. Nereka yang jelas-jelas tidak iman kepada kenabian MGA jika mati tidak boleh dishalati jenazahnya.

Di sinilah perbedaan antara sufisme Ahlussunah Wal Jama'ah dari sufisme yang dikembangkan MGA. Jelas sekali, MGA telah menyimpang dari paham-paham sufistik Ahlussunnah Wal Jama'ah, walau untuk mengatakan dia telah keluar dari Islam kurang tepat. Dia tetap Muslim, tetapi konsep ke-Islamannya menjadi radikal, tidak jauh beda dari para fundamentalis-fundamentalis lainnya, yang ingin mengasai kebenaran penafsiran Islam.
Dia memang telah mengkafirkan kelompok non-Ahmady, termasuk para sufy Ahlussunnah Wal-Jama'ah, tetapi tidak seyogyanya kita ikut membalas sikap itu. "Walaa yajrimannakum syanaanu qoumin 'alaa anlaa ta'diluu, I'diluu huwa aqrabu littaqwa."

3. Jikalau mereka telah sah kesesatannya atau kekafirannya menurut syayat-syarat dan kreteria syari'at, bagaimana tanggapan bapak terhadap sekelompok orang yang mendukung mereka? dan apakah mereka sama saja dalam pandangan syari'at islam atau beda?
Ada dua hal yang harus dibedakan, mendukung kesesatannya dan mendukung konsep kehidupan bernegara dengan naungan Pancasila. mendukung dalam arti yang pertama adalah keslahan, dan saya kira tidak ada yang melakukan itu kecuali mereka yang percaya pada kenabian MGA. Akan tetapi mendukung dalam arti kedua hanya perbedaan pandangansaja dalam ber-Islam di negeri seperti Indonesia. tidak lebih dan tidak kurang.
Tugas kita adalah menjelaskan kepada umat tentang bahayanya konsep kenabian MGA agar tidak terjerumus ke dalamnya.

 
4. Kapan dan bagaimanakah paham dan ajaran Ahmadiyah masuk Indonesia?

Baca Kelanjutannya di Quo Vadis AHMADIYAH (Wawancara Dr. KH. Abdul Ghofur MZ. LC. M.Si) dengan Majalah Sinar (Bag-2)1)

Tidak ada komentar: