div id='fb-root'/>
  • CAKNUN.
  • Bersama Zastrow el-ngatawi
  • Jombang 1-5 Agustus 2015.

Jumat, 20 Maret 2015

Cerpen : Gus Muslih

OLeh  : A Mustofa Bisri

GUS Muslih adalah seorang kiai muda yang tidak hanya cerdas dan 

kritis, tapi juga tegas dan lugas. Apabila melihat sesuatu yang 

dianggap tidak benar, tanpa ragu dia akan terang-terangan 
menyalahkan. Ungkapan yang paling disukai ialah qulilhaqqa walau 
kaana murran, katakanlah yang benar meski terasa pahit. Anak-anak 
muda paling suka mengundang Gus Muslih untuk memberikan ceramah.



Bagi anak-anak muda itu, Gus Muslih dianggap pembaru. Banyak hal yang 

sudah berjalan lama di daerah kami yang dihujat dan dipertanyakan 

oleh Gus Muslih. Misalnya kebiasaan keluarga yang mendapat musibah 
kematian, memberi makan kepada para tamu yang bertakziah dan 
memberikan uang salawat kepada kiai atau modin, dia tentang habis-
habisan. 




"Ya kalau keluarga yang tertimpa musibah itu keluarga yang berada, 

tak masalah," katanya dalam sebuah ceramahnya. "Kalau keluarga itu 

miskin? Apakah hal itu tidak menambah musibah?" 


Terhadap sikapnya itu ada yang setuju, seperti umumnya anak-anak 

muda; ada juga yang tidak. Mereka yang tidak setuju umumnya dari 

golongan tua. Golongan tua yang tidak setuju menganggapnya terlalu 
kemajon, sok maju. "Wong itu sudah merupakan tradisi sejak lama kok 
diuthik-uthik!" begitu kilah mereka, "Itu namanya tidak menghormati 
orang-orang tua yang mula-mula mentradisikan." 



Untuk itu Gus Muslih punya jawaban yang cukup telak. "Tradisi yang 

baik memang perlu kita lestarikan, tapi yang buruk apa harus kita 

lestarikan? Kalau begitu apa bedanya kita dari kaum jahiliah yang 
dulu mengecam Nabi kita yang mereka anggap merusak tradisi yang sudah 
lama dijalankan nenek-moyang mereka?" 



Kelompok tua yang tidak menyetujui Gus Muslih memang serbasalah 

menghadapi. Soalnya Gus Muslih memang tidak seperti sementara ustad 

muda lain yang asal membasmi tradisi; yang mengecam selamatan dan 
tahlilan, misalnya. 



Gus Muslih selamatan mau, tahlilan juga mau. Bahkan dia mau memimpin 

anak-anak muda ziarah ke makam-makam Wali Songo. Yang lebih membikin 

jengkel kelompok orang tua yang tidak menyetujui itu, justru karena 
kiai muda ini selalu bisa menjawab keberatan mereka dengan 
argumentasi yang mematikan; baik menggunakan dalil naqli atau aqli. 
Pernah ada seorang tokoh tua yang memberi pengajian, isinya lebih 
mirip kampanye politik ketimbang ceramah agama. 



Tokoh itu dalam rangka menggiring jamaah untuk mendukung partainya, 

selalu menggunakan dalil-dalil ayat Alquran dan hadis Nabi segala. 

Gus Muslih dalam forum pengajian lain pun mengkritik dengan 
mengatakan, "Adalah terlalu berani membawa ayat-ayat dan sunnah Rasul 
SAW untuk kepentingan politik praktis. Itu pelecehan dan sekaligus 
membuat umat bingung. Lihatlah, tokoh partai ini menggunakan ayat dan 
hadis untuk mendukung partainya, lalu kiai partai lain juga berbuat 
sama untuk mendukung partainya, apa ini tidak membingungkan 
masyarakat? Bila kemudian, karena menggunakan firman Allah dan sabda 
Rasul-Nya, masyarakat awam meyakini sebagai kebenaran mutlak, apa 
tidak terjadi sikap mutlak-mutlakan antarpendukung partai? Bila tidak 
mengerti politik, mbok sudah rela saja tidak usah berpolitik; dari 
pada membawa-bawa agama. Apakah tokoh-tokoh yang suka membawa-bawa 
ayat dan hadis untuk kepentingan politik itu tidak memikirkan 
akibatnya di dunia atau di akhirat kelak? Bagaimana kalau tiap-tiap 
pendukung yang awam itu meyakini bahwa mendukung partai sama dengan 
mendukung agama dan memperjuangkan partai sama dengan jihad fi 
sabilillah?" 



Akhirnya kelompok orang-orang tua yang marah itu, tidak lagi mau 

berdialog dengan Gus Muslih dan orang-orang yang mereka anggap 

pendukungnya, baik langsung atau tidak. 


Mereka beralih kepada gerakan membentengi diri. Setiap kali mereka 

mengadakan pertemuan antarmereka yang anti atau tidak sejalan dengan 

sikap Gus Muslih dan menganjurkan jamaah mereka sendiri untuk tidak 
usah mendengarkan ceramah atau omongan kiai muda yang mereka anggap 
mursal itu. Mereka mengatakan kepada para pengikut mereka, 
mendengarkan bicara Gus Muslih bisa membahayakan akidah. 



Sampai suatu ketika tersebar berita bahwa Gus Muslih memelihara 

anjing. Tentu saja hal itu membuat geger masyarakat. Kaum muda 

pendukung Gus Muslih serta merta menolak berita itu dan menganggap 
hanya sebagai fitnah keji dari mereka yang tidak suka dengan amar 
makruf nahi mungkar dia yang tegas. Sementara kelompok tua yang 
sedari awal tidak menyukai Gus Muslih, langsung menggunakan berita 
itu untuk menghantam di setiap kesempatan. "Lihatlah itu, tokoh yang 
kalian anggap kiai dan pembaru itu! Dia bukan saja menyeleweng dari 
ajaran orang-orang tua bahkan telah berani melanggar adat 
keluarganya. Kalian kan tahu malaikat tidak akan masuk ke rumah orang 
yang memelihara anjing. Sekarang ketahuan belangnya." 



Karena cemburu kepada Gus Muslih, anak-anak muda pendukungnya pun 

tidak rela dan berusaha mencari sumber dari mana berasal berita bahwa 

Gus mereka memelihara anjing itu. Niat mereka akan memberi pelajaran 
kepada orang yang mula-mula menyebarkan berita menyakitkan itu. Ada 
informasi yang mengatakan bahwa seseorang dari kota P-lah yang mula-
mula bercerita tentang hal itu. Namun sebelum mereka bertemu dengan 
orang yang mereka cari, mereka melihat Gus Muslih sedang 
bersembahyang di masjid. Mereka menunggu hingga Gus Muslih selesai 
bersembahyang dan berzikir seperti biasanya. Setelah Gus Muslih 
beranjak menuju serambi masjid, baru mereka menghambur menghampiri 
idola mereka itu. 



"Aku tahu, kalian pasti ingin tahu kebenaran dari berita tentang 

anjing kan?" tebak Gus Muslih sambil tersenyum penuh arti. "Ayo, 

marilah kita duduk-duduk sebentar." 


Semua pun duduk mengelilingi Gus Muslih. 



"Ya, Gus," kata salah seorang yang mengambil tempat duduk persis di 

depan Gus Muslih, "kami panas sekali mendengarnya. Kami malah berniat 

mengadakan pengajian khusus dan mengundang Gus agar bisa menjelaskan 
kepada masyarakat untuk membantah isu yang beredar itu." 



"Mengapa harus dibantah?" tanya Gus Muslih kalem, membuat semua yang 

merubungnya jengah. "Aku sekarang memang sedang memelihara anjing." 



"Hah!" hampir serempak semua mengeluarkan desahan kaget. 



"Mengapa kalian begitu kaget?" kata Gus Muslih masih dengan nada 

kalem. Kemudian Gus Muslih pun bercerita kepada jamaah anak muda, 

pengagumnya itu. 


"Malam itu aku pulang dari mendatangi undangan panitia untuk 

berceramah halalbihalal di kota P. Aku diantar oleh salah seorang 

panitia dengan mobil kijang baru. Waktu itu malam sepi dan hujan 
rintik-rintik. Hanya sesekali terdengar petasan Lebaran di sana-sini. 
Padahal katanya sudah dilarang, malam-malam selarut itu kok ya masih 
ada yang bermain petasan. 



"Ketika kami sedang melintasi jalan raya yang menuju ke kota kita 

ini, aku melihat sosok makhluk kecil bergerak-gerak di tengah jalan. 

Langsung saya berteriak, 'Brenti, Mas!" 


"Mobil pun berhenti. Aku turun menghampiri makhluk kecil yang 

menggelepar-gelepar. Ternyata masya Allah, kulihat seekor anak anjing 

yang tampak kesakitan, mengeluarkan suara keluhan menyayat. Badannya 
basah kuyup dan kakinya berlumuran darah. Tanpa pikir panjang aku 
gendong anak anjing itu kubawa naik mobil. Melihat aku masuk mobil 
membawa anak anjing, tiba-tiba kulihat orang yang punya mobil seperti 
melihat hantu. 'Lo, Pak!' teriaknya kaget setengah mati 'Najis lo, 
Pak!"' 



"Aku bilang, ini lihat; kasihan kakinya luka parah; mungkin ada mobil 

yang menerjangnya lalu kabur. 'Ya tapi itu najis Pak,' ulangnya jijik 

sambil matanya terus memelototi anak anjing yang kupeluk. Aku menduga 
dia takut anjing atau darahnya akan mengotori mobil kijangnya yang 
baru. Maka aku mencopot jasku dan membungkus anak anjing yang terus 
bergeletar dalam pangkuanku, kedinginan campur kesakitan. Mata 
pengantarku masih saja terus berganti-ganti mengawasiku dan anjing 
yang kupangku dengan wajah tak percaya. Dia tidak segera menjalankan 
mobilnya kembali. Tiba-tiba aku menjadi sebal. 'Sudah,' begini saja, 
kataku kemudian, 'biar aku turun di sini saja. Silakan Anda kembali 
dan sampaikan terima kasihku kepada kawan-kawan panitia." 



"Berkata begitu aku pun membuka pintu dan meloncat turun sambil 

memeluk si anjing kecil. Tak lama si pengantar men-starter mobilnya 

dan berbalik pulang. Sejenak aku dilanda kemurungan sangat. Bukan 
karena aku ditinggalkan di tengah jalan di malam geri mis; tapi 
karena aku teringat ceramah halalbihalal di kota P tadi. 



"Baru beberapa jam lalu aku berbicara kepada saudara-saudaraku di 

sana tentang hikmah Syawal. Bulan kemenangan setelah berpuasa sebulan 

penuh di bulan suci Ramadan. Kukatakan, antara lain kemarin pada 
Ramadan kita telah dapat menaklukkan setan; menaklukkan nafsu 
kebinatangan kita; dan kini menjadi fitri kembali. Menjadi manusia 
yang dimuliakan Tuhan melebihi makhluk-makhluk-Nya yang lain. Makhluk 
berbudi yang memiliki tidak hanya akal tapi juga hati nurani. Makhluk 
yang diangkat menjadi kalifah-Nya untuk menebar kasih sayang di 
bumi." 



Ketika sejenak Gus Muslih berhenti, tak ada seorang pun dari mereka 

yang asyik mendengarkan mengeluarkan sepatah kata. Mereka semua 

terpaku diam seperti kena sihir. Maka Gus Muslih pun melanjutkan. 


"Aku sedih ternyata Ramadan masih belum sebenarnya berpengaruh hingga 

ke sanubari kaum muslimin. Banyak yang seperti merayakan kemenangan 

kosong. Setiap saat, khususnya pada Ramadan kemarin, mereka selalu 
membaca basmalah, Bismillahirrahmanirrahim, menyebut asma Allah yang 
Maha Pengasih lagi Maha Penyayang; namun bukan saja tidak tertulari 
kasih sayang-Nya, malahan banyak yang masih memelihara kebencian 
setan. Mestinya Syawal ini, mereka menjadi segar kembali sebagai 
manusia seperti pemimpin agung mereka Nabi Muhammad Saw yang selalu 
mencontohkan kasih-sayang kepada sekalian alam." 



Gus Muslih berhenti lagi sejenak, menarik napas panjang, kemudian 

seperti teringat sesuatu, meneruskan bicaranya, "Alhamdulillah, 

setelah aku rawat beberapa hari, anak anjing itu sembuh dan sehat. 
Beberapa hari kemudian Babah Ong, tetanggaku memintanya dan aku 
berikan dengan pesan agar dia merawatnya dengan baik." 



"Alhamdulillah!" gumam anak-anak muda yang dari tadi setia 

mendengarkan. Entah gumam syukur itu mensyukuri kesembuhan si anjing 

ataukah karena kiai idolanya itu kini sudah tidak lagi memelihara 
anjing seperti digegerkan orang. 




Rembang, 2002 

Tidak ada komentar: